EDITORIAL
UN dan Perempuan
UJIAN nasional untuk tingkat SMA/MA telah selesai pekan lalu, sementara untuk SMK dua minggu sebelumnya sudah rampung.
UJIAN nasional untuk tingkat SMA/MA telah selesai pekan lalu, sementara untuk SMK dua minggu sebelumnya sudah rampung. Namun ada yang menarik, yang mencuat dari Kabupaten Sarolangun kemarin, ketika instansi terkait mengeluarkan data ada puluhan pelajar yang tidak ikut UN karena menikah.
Disebutkan alasan para siswa tersebut tidak mengikuti ujian karena sedang sakit, sudah pindah, dan telah berhenti (DO). Dari alasan tersebut, pihak terkait melihat pada umumnya karena sudah menikah. Patut disayangkan masih ada yang putus sekolah karena hal ini.
Belum lama ini, tokoh perempuan muda dunia asal Pakistan, Malala Yousefzai, yang merupakan aktivis pendidikan perempuan menyerukan di Kanada, di hadapan Perdana Menteri, kepada seluruh pemimpin dunia untuk serius memberantas kebodohan di kalangan perempuan, terutama anak-anak perempuan. Caranya dengan memastikan terselenggaranya pendidikan bagi para perempuan selama 12 tahun, yang artinya hingga lulus tingkat SMA.
Menurut Malala, yang menerima hadiah Nobel Perdamaian itu, memberikan pendidikan kepada anak-anak perempuan hingga tuntas selama 12 tahun akan memberantas begitu banyak masalah kemasyarakatan dan masalah-masalah sosial. Sepert berkurangnya kekerasan, turunnya kemiskinan, majunya perekonomian bangsa, dan menjamin generasi mendatang yang lebih berkualitas.
Mendidik kaum perempuan, terutama anak-anak perempuan, akan mengentaskan mereka dan anak keturunannya dari masalah-masalah sosial dan menurunnya kriminalitas.
Malala juga menyampaikan, bahwa di negara-negara berkembang, masih ada anak-anak perempuan yang tak tersentuh pendidikan menyebabkan negara-negara tersebut makin tertinggal dari negara maju.
Bandingkan dengan negara seperti Jepang, yang amat memedulikan pendidikan, hingga nyaris tak ada anak-anak di sana yang tak bersekolah. Hasilnya, Jepang menjadi negara yang bisa mengaum di kancah dunia.
Sangat penting dan patut disadari oleh pemerintah dan masyarakat pada umumnya, kita ketahui, perempuan adalah sekolah yang pertama bagi anak. Berkembangnya sebuah generasi sebuah bangsa amat tergantung pada peran serta perempuan di rumah dalam mendidik, atau minimal memastikan anak-anaknya melek pendidikan.
Memang disadari, kemiskinan dan keterbelakangan yang masih dialami sebagian masyarakat, terutama di daerah-daerah pelosok, kadang menjadi kendala bagi pemerintah untuk meningkatkan kesetaraan penyebaran pendidikan. Diperlukan peran aktif dan kepedulian dari semua pihak. (*)