EDITORIAL
Berharap Efek Jera
Alhasil, kemarin Tim Satgas Saber Pungli di Jambi mengekspos 15 hasil operasi tangkap tangan (OTT) yang telah dilakukan dengan 39 pelaku dari berbaga
TIM Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar (Satgas Saber Pungli) di Jambi, kemarin mengekspos hasil operasi mereka pascadibentuk akhir 2016 lalu. Pembentukan tim yang digagas Presiden Joko Widodo ini, sempat direspon pro dan kontra. Ada pesimisme karena praktik pungli dianggap sudah mengakar dan sulit diberantas.
Namun, untuk satu tujuan kebaikan tentu perang terhadap pungli harus terus dilakukan. Alhasil, kemarin Tim Satgas Saber Pungli di Jambi mengekspos 15 hasil operasi tangkap tangan (OTT) yang telah dilakukan dengan 39 pelaku dari berbagai instansi pemerintahan. Kapolda Jambi, Brigjen Pol Yazid Fanani yang memimpin ekspos menyebut kasus yang berhasil diungkap berasal dari berbagai latar belakang.
Seperti diungkap Kapolda, pungli dapat menghambat lajunya perkembangan perekonomian. Tidak hanya itu, pungli juga punya efek negatif dalam pembentukan karakter dan keteladanan. Seperti dugaan pungli yang kerap dikeluhkan setiap tahun ajaran baru dan akhir tahun ajaran di berbagai lembaga pendidikan.
Praktik pungli dalam penerimaan siswa, misalnya. Meski sudah digelar penerimaan secara online tidak menutup kemungkinan terjadinya praktik yang dapat menyingkirkan orang yang semestinya berhak mendapatkannya.
Anak yang tersingkir meski berprestasi menjadi kecewa dan pesimistis atas ketidakadilan pada dirinya. Anak yang lulus setelah orangtua memberi sejumlah uang kepada pihak sekolah menganggap semua persoalan bisa diselesaikan dengan uang. Pihak sekolah yang menerima uang secara tidak halal sulit dijadikan panutan/keteladanan yang mestinya menjadi cerminan di lembaga pendidikan.
Pungli di sekolah bisa menjadi cerminan sederhana untuk praktik pungli yang lebih besar, seperti sogok dalam penerimaan pegawai. Efek negatifnya menjadi lebih kompleks dan mempengaruhi kualitas sistem suatu pemerintahan, karena biasanya pascapungli penerimaan pegawai, akan berlanjut pada pungli-pungli lainnya.
Berurat berakarnya praktik pungli di negeri ini cukup membuat sebagian pihak merasa semua urusan hanya bisa diselesaikan dengan uang. Sementara sebagian lainnya, tetap berdiri dengan idealismenya. Menolak berada dalam lingkaran tersebut, tidak jarang harus tersingkir karena dianggap merusak sistem.
Meski operasi yang dilakukan belum sebanding kualitas dan kuantitasnya dibanding praktik sesungguhnya, namun untuk langkah awal kita tetap harus optimis. Apalagi tim ini punya payung hukum dengan tugas dan fungsi yang jelas.
Semoga ke depannya, makin banyak praktik pungli yang terungkap. Menumbuhkan efek jera dan melahirkan generasi dengan mental lebih baik dalam lingkaran pemerintahan, untuk kehidupan berbangsa dan bernegara yang juga lebih baik tentunya.(*)