EDITORIAL

Memperbaiki Urat Nadi Perekonomian

BANJIR yang melanda sejumlah kabupaten dan kota di Provinsi Jambi beberapa waktu lalu menyisakan kerugian cukup besar.

Editor: Duanto AS

BANJIR yang melanda sejumlah kabupaten dan kota di Provinsi Jambi beberapa waktu lalu menyisakan kerugian cukup besar. Dilihat dari jumlah bangunan rumah yang terendam hampir 35 ribu rumah, dan 104 ribu jiwa (3.500 KK) menjadi korban terdampak banjir. Termasuklah dua orang meninggal terseret arus deras.

Belum lagi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jambi, yang mencatat setidaknya 11 fasilitas kesehatan, 68 fasilitas pendidikan, 22 fasilitas Ibadah. Belum lagi, tujuh jembatan dan 16 titik jalan baik jalan nasional dan provinsi ikut terendam banjir.

Memang banyak yang berpendapat kalau banjir kali ini boleh dikatakan terbesar, dibanding sebelumnya. Bahkan, khusus untuk Kabupaten Bungo dan sekitarnya, banjir 2017 termasuk yang paling besar setelah 1977 silam.
Artinya ada perubahan sangat fenomenal terhadap karakter Sungai Batanghari, yang diklaim sungai terpanjang di Sumatera ini. Dan ini menjadi pemikiran bagi semua pihak bahwa banjir adalah kejadian alam yang tidak boleh dipandang enteng.

Betapa sedihnya tatkala ada beberapa desa yang minta bantuan sembako, di lain pihak dinas/badan terkait yang seharusnya ada di tengah mereka, dan sigap turun memberi bantuan, ternyata mengaku belum ada anggaran.

Makanya ada beberapa kelompok masyarakat yang turun ke jalan raya minta bantuan. Karena sudah jamak bahwa selama ini ada institusi yang kerjanya menggelontorkan bantuan, tapi tidak bisa berbuat banyak.

Kalaupun pada akhirnya bantuan turun, tapi itu setelah tingginya tekanan media yang gencar memberitakan banjir. Ke depan hendaknya hal ini menjadi pelajaran berharga. Dulu, kalau ada banjir, pemerintah bergegas turun distribusikan bantuan pangan, serta semua terkait keperluan selama banjir, termasuk selimut, obat-obatan, dan pakaian.

Pemerintah pusatpun pantang dikasih kabar, segera menggelontorkan bantuan dan langsung diterima oleh yang berhak menerimanya. Makanya kita ikut miris, ketika melihat korban banjir ramai-ramai turun ke jalan minta "sedekah" kepada sopir mobil, pengendara motor bahkan penumpang angkutan umum.

Hal lain yang tidak kalah urgent adalah jalan dan jembatan yang rusak karena banjir. Khusus untuk infrastruktur jalan ini menjadi perhatian dan sorotan banyak pihak karena menjadi urat nadi perekonomian. Kasi Perencanaan Bidang Bina Marga Dinas PUPR Provinsi Jambi, Rupinus menjelaskan, sejumlah infrastruktur jalan rusak cukup parah terjadi di wilayah Kabupaten Tebo, Muara Bulian, Sungai Bahar dan Batang Asai.

Total kerusakan jalan akibat banjir 46 kilometer. Kerugian ditaksir Rp 98,8 miliar. Dinas PU masih proses tender untuk memulai mengerjakan jalan rusak akibat banjir. Satu hal yang patut diapresiasi adalah beberapa program proyek jalan dialihkan untuk penanganan ruas jalan akibat banjir yang dinilai mendesak.

Harapan kita, proses lelang selesai dan segera dilanjutkan pekerjaan jalan. Hasil bumi dan lalu lintas barang dan orang lancar, agar tidak ada lagi rakyat memekik mengeluh jalan rusak. Jalan bagus adalah impian kita. Karena jalan mulus adalah simbol kemajuan. Seperti kata ilmuan negeri Tirai Bambu, kalau menginginkan kemajuan bukalah jalan. (*)

Sumber: Tribun Jambi
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved