EDITORIAL
Menghormati Kritikan
Kata Zola, hal itu sudah lumrah terjadi di pemerintahan. Seorang kepala daerah tentu tidak lepas dari kritik, itu sudah lazim.
GUBERNUR Zumi Zola menanggapi dengan senyum semua kritik yang ditujukan kepada dirinya pasca pelantikan 600 pejabat eselon III dan IV, Sabtu (25/3). Sepertinya Zola berusaha menahan diri menerima hujan kritik tersebut. Bahkan kritikan "pedas" dari pimpinan parpol sekalipun disambutnya dengan senyum.
Di sini sudah menunjukkan ada perubahan yang sangat mendasar pada diri Gubernur Zumi Zola yang semula dikhawatirkan semua pihak, kalau dirinya akan membalas kritikan pedas pula. Rupanya hal itu tidak terjadi, Zola tetap tegar dan tersenyum.
Kata Zola, hal itu sudah lumrah terjadi di pemerintahan. Seorang kepala daerah tentu tidak lepas dari kritik, itu sudah lazim. Terkait resafel itu sendiri, bukan tanpa sebab. Hal ini dikarenakan terjadinya pembentukan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) baru oleh Pemerintah Pusat tahun 2017. Ada OPD yang dihilangkan, makanya formasinya diatur lagi.
Bahkan dengan senyum Zola sangat menghormati dan menghargai kritik disampaikan Ketua DPD Golkar Zoerman Manap. Satu hal yang patut diberi acungan jempol, sebagai kepala daerah Zola mampu meredam emosionalnya untuk tidak meledak-ledak. Karena, hal itu bisa jadi membuat suasana semakin blunder, yang justru merugikan dirinya.
Kritik mengkritik memang hak semua orang, asalkan kritik yang disampaikan sifatnya membangun, tidak menghujat, apalagi memfitnah. Kalau kritiknya sehat, tentu saja yang dikritik akan menerimanya dengan senyum dan lapang dada. Bisa menjadi pijakan dan referensi bagi dirinya untuk tidak salah langkah ke depan.
Nah, kritik membangun dapat meningkatkan perilaku seseorang dengan menghindari sikap menyalahkan dan menyerang pribadinya. Kritik membangun memiliki sifat positif dan berfokus pada tujuan jelas. Tapi celakanya, ada juga kritik yang sifatnya tidak membangun. Ini boleh jadi bisa merendahkan, dan menyakiti orang lain.
Dalam konteks kritik yang ditujukan ke Gubernur Jambi Zumi Zola, pasca pelantikan pejabat eselon III dan IV, barangkali terlalu prematur untuk langsung memberikan penilaian bahwa Zola tidak mengacu kepada the right man on the right place. Mengingat mereka yang baru dilantik belum sama sekali menunjukkan kinerjanya di tempat yang baru. Artinya berilah kesempatan kepada mereka untuk bekerja.
Bagaimana bisa kita memberi penilaian kepada mereka (baca pejabat baru dilantik), sementara mereka sendiri belum diberi kesempatan untuk melaksanakan gaweannya. Nah, setelah berjalan tiga bulan atau enam bulan, atau seratus hari marilah kita lihat sejauh mana kinerjanya.
Seperti kata pepatah, nanti juga terlihat yang mana beras dan yang mana antah. Di sinilah peran kita bersama-sama menyampaikan kritik sifatnya membangun, mengingatkan sang pengampu kebijakan untuk mengevaluasi stafnya. Dan sang pengampu kebijakan pun harus bisa menerima kritikan, untuk mengingatkan dirinya tidak salah langkah. (*)