EDITORIAL

Tetap Waspadai Vaping

BERHENTI merokok akan menjadi sebuah siksaan tiada tara bagi perokok berat. Berbagai cara yang dilakukan untuk berhenti rokok, tidak melulu membuahkan

Editor: Duanto AS

BERHENTI merokok akan menjadi sebuah siksaan tiada tara bagi perokok berat. Berbagai cara yang dilakukan untuk berhenti rokok, tidak melulu membuahkan hasil.

Bagi sebagian mereka yang mempunyai niat kuat, bisa jadi berhasil mengurangi frekuensi merokok atau bahkan memang setop ngudut. Tetapi bagi sebagian lainnya, usaha tinggal usaha. Mereka kembali ke kebiasaan semula, merokok seperti biasa.

Berbagai upaya pihak terkait untuk mengurangi dampak merokok, tidak berhasil. Meski pada bungkus rokok sudah tertera dampak negatif rokok, lengkap dengan visual yang mengerikan, toh omzet penjualan rokok konvensional tidak menurun.

Dan akhir-akhir ini, sedang marak penggunaan vape, satu bentuk dari rokok elektronik. Bukan cuma lantaran dianggap sebagai alternatif rokok tembakau, melainkan juga sebagai trend lantaran ada ratusan perasa saat vaping.

Pengakuan beberapa orang yang berbisnis vape, keuntungan mereka cukup tinggi sejak membuka bisnis ini lima bulan terakhir. Dalam satu bulan, ia bisa meraup untung Rp 50 juta. Untung ini cukup besar lantaran ia mendatangkan vape yang dikirim langsung dari negara produsen seperti Amerika, China.

Vape dianggap dapat mengurangi konsumsi ketergantungan pada rokok konvensional sekaligus mengurangi biayanya. Jika merokok konvensional, perokok berat bisa menghabiskan sedikitnya Rp 40 ribu sehari atau sekitar Rp 1,2 juta sebulan. Sementara menggunakan vape, biaya dibutuhkan besar saat awal, sekitar Rp 350 ribu-Rp 3 juta. Selanjutnya hanya mengeluarkan ratusan ribu saja dalam sebulan.

Vaping sebenarnya bukan barang baru. Di tingkat nasional, menggunakan rokok elektronik sudah berlangsung bertahun-tahun lalu.

Sejak muncul pada 2003, vaping diharapkan menjadi alternatif pengganti rokok konvensional (tembakau). Asap yang dihasilkan bukan dari pembakaran tembakau, melainkan uap dari cairan. Kandungannya juga dianggap tidak berbahaya.

Namun sejumlah penelitian masih mempertanyakan dampak dari vape ini, lantaran zat-zatnya dianggap tidak jauh beda dari merokok, meski kadarnya lebih rendah.

Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, pada Januari lalu, mengungkapkan bahwa bahan campuran cairan pada vape tidak bebas dari kandungan yang membahayakan kesehatan.

Seperti halnya pada rokok tembakau, perlu kejelasan mengenai kandungan pasti vape dan rokok elektronik. Selain itu, perlu pula kejelasan mengenai dampak vaping ini bagi kesehatan pengguna serta sekitarnya. Mengingat faktor uap dari vaping apakah akan juga memengaruhi lingkungan sekitar, seperti halnya asap rokok tembakau pada perokok pasif.

Dengan demikian, kita dapat mewaspadai dampak lanjutan dari vaping atau rokok elektronik bagi anggota keluarga kita. (*)

Sumber: Tribun Jambi
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved