EDITORIAL
Terlambat karena Jalan Rusak
Akhir Januari lalu, seorang ibu yang hendak melahirkan kehilangan nyawa, lantaran terlambat dibawa ke rumah sakit kota lantaran kondisi jalan buruk.
KABAR kurang sedap kembali terdengar dari Sungai Bahar, Kabupaten Muarojambi. Sebuah mobil ambulans terjebak di tengah jalanan berlumpur, di kawasan Unit 20, 21, 22 Kecamatan Sungai Bahar Selatan. Berjam-jam kendaraan yang mengangkut pasien itu terjebak hingga bermalam. Kendaraan rumah sakit itu sedang mengangkut seorang pasien demam berdarah, yang akan dibawa ke rumah sakit di Kota Jambi.
Itu bukan kejadian kali pertama. Akhir Januari lalu, seorang ibu yang hendak melahirkan kehilangan nyawa, lantaran terlambat dibawa ke rumah sakit kota lantaran kondisi jalan buruk. Di saat kondisinya pendarahan, waktu tempuh ke rumah sakit menuju rumah sakit menjadi lima jam, akibat kondisi jalan buruk.
Bukan kabar baru dan sangat mungkin bakal terjadi lagi. Puluhan sopir angkutan terpaksa bermalam di lokasi jalan rusak, karena kendaraannya tak bisa melewati lumpur. Infrastruktur rupanya masih menjadi isu yang aktual di Provinsi Jambi, sejak bertahun‑tahun lalu.
Menurut Kepala Desa Tanjung Sari di Unit 22, Bakhori Lubis, imbas infrastruktur tidak bagus bukan hanya itu. Selain sawit yang membusuk karena tak terkirim, harga kebutuhan juga naik. Di pendidikan, anak sekolah kesulitan kesulitan mengakses jalan satu‑satunya. Sungguh persoalan yang kompleks.
Warga telah berusaha gotong royong memperbaiki jalan sebisanya. Selain itu, lobi‑lobi ke pemerintah dan dewan telah dilakukan. Di sisi lain, pemerintah juga berusaha melakukan penimbunan dan pengerasan jalan menggunakan material alat berat.
Meski pemerintah kabupaten dan provinsi telah "turun tangan", namun nyatanya tidak berubah. Sampai saat ini, warga dan pengguna jalan jalan sama‑sama mengeluhkan kondisi jalan, terutama saat hujan.
Sebuah pertanyaan patut dimunculkan terkait momen itu. Mengapa persoalan jalan selalu mengemuka? Ada "batu kerikil" apa yang membuat isu ini kerap muncul? Karena, mungkin, peristiwa yang sama bisa terjadi di daerah lain, namun belum terpantau.
Bertolak dari peristiwa‑peristiwa yang terjadi, pemerintah sebijaknya melakukan evaluasi dan melakukan pemetaan daerah‑daerah rawan jalan rusak. Kemudian, menilik ulang anggaran infrastruktur, pelaksanaan proyek dan pengawasan proyek infrastruktur pun harus dikaji.
Itu bukan tanpa alasan, karena keberadaan infrastruktur menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. Dalam ekonomi, itu juga menjadi kunci biaya produksi. Dan bagi masyarakat, akan mempengaruhi produktivitas tenaga kerja, konsumsi.
Kita berharap mendapat akses jalan berkondisi bagus dan nyaman ke depan.(*)