EDITORIAL

Transformasi ke Skripsi Digital

Di zaman yang menuntut kecepatan dan ketepatan ini, digitalisasi dipercaya menjadi suatu keniscayaan.

Editor: Duanto AS

KETERSEDIAAN literatur atau sumber bacaan, merupakan satu di antara faktor menentukan kalangan mahasiswa menyelesaikan masa kuliah dengan lancar. Sementara itu, di zaman yang menuntut kecepatan dan ketepatan ini, digitalisasi dipercaya menjadi suatu keniscayaan.

Ketersediaan literatur dalam format digital, membuat informasi mudah didistribusikan, termasuk di antaranya karangan ilmiah mahasiswa untuk menyelesaikan jenjang pendidikan.

Dalam pengertian populer, di situs wikipedia, digitalisasi informasi merupakan pengubahan informasi, kabar, berita dari format analog menjadi format digital. Keuntungannya, format ini lebih mudah diproduksi, disimpan, dikelola dan didistribusikan. Pertumbuhan pesat dalam produksi informasi berbasis elektronik, telah melahirkan digital library alias perpustakaan digital.

Di kampus‑kampus di Indonesia, terutama kampus "besar", proses ini telah berlangsung. Setiap mahasiswa yang menyelesaikan jenjang pendidikan, diminta mengumpulkan karangan ilmiahnya dalam format analog (cetak) dan digital. Di perpustakaan, untuk format analog, jamak dijumpai yang tersusun di rak buku dalam bentuk bundelan. Dan untuk format digital, dalam bentuk file yang bisa diakses via komputer jaringan internal atau internet.

Nah, untuk Jambi, belum semua kampus melakukan peralihan (transformasi) ini. Hampir semua kampus, baik negeri dan swasta, masih menggunakan format analog. Seperti di Universitas Jambi (Unja) yang tengah mulai peralihan, IAIN Sulthan Thaha Syaifuddin, dan kampus swasta lain.

Dalam catatan Tribun Jambi, dalam setahun ada sekira 4.000 skripsi dihasilkan di Unja, 1.500‑an di IAIN STS, 600‑an di Universitas Batanghari. Secara fisik, dalam 10 tahun saja, maka puluhan ribu bundel menumpuk. Kemudian muncul pertanyaan, bagaimana cara mudah mengaksesnya? Perawatan untuk memastikan skripsi tak terlantar? Katalog dan pencariannya? Dan sederet pertanyaan lain. Namun yang pasti dan musti dijawab, perlu sebuah metode menyimpan, mengakses ke depan.

Proses digitalisasi di perpustakaan bukan perkara mudah dan waktu singkat. Dalam sebuah kampus pasti ada puluhan ribu karangan ilmiah. Butuh peranti dan teknologi yang memadai untuk penyimpanan.

Namun di sisi lain, perlu diperhatikan juga ekses dari digitalisasi skripsi ini. Karena mahasiswa mendapat kemudahan, ada kemungkinan mahasiswa nakal yang memakai "jalur potong kompas", seperti plagiat, copy paste untuk menyelesaikan tugas ilmiahnya. Kondisi itu berbeda apabila mengakses format analog, mahasiswa musti membaca tuntas, dan mengetik lagi.

Imbas "potong kompas" itu, proses intelektual di dalamnya berkurang. Di wilayah‑wilayah seperti ini, perlu mendapat pengawasan. dan perhatian khusus.

Namun, ke depan dunia pendidikan semakin berkembang. Digitalisasi secara bertahap akan merambah berbagai ranah, baik pendidikan, kesehatan, sosial dan sebagainya, untuk mempermudah aktivitas manusia. (*)

Sumber: Tribun Jambi
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved