Ekspansi Blok Cepu Tertunda Bisa Turunkan Nilai
PT Pertamina EP Cepu (PEPC) anak usaha PT Pertamina (persero) tengah bergegas untuk segera memulai pengembangan
TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - PT Pertamina EP Cepu (PEPC) anak usaha PT Pertamina (persero) tengah bergegas untuk segera memulai pengembangan lapangan Jambaran Tiung Biru (JTB) di blok Cepu. Jika tidak segera dimulai, keekonomian lapangan JTB bisa terus turun karena onstream proyek ini tertunda.
Direktur Utama PEPC, Adriansyah bahkan mengatakan jika onstream lapangan JTB mundur setahun dari jadwal maka akan ada penurunan keekonomian sebesar 1%-2%. Penurunan keekonomian tersebut dipengaruhi oleh mekanisme cost recovery.
"Karena mekanisme cost recovery-nya kan kalau lebih setahun onstream-nya, NVP-nya turun kan, fresh money-nya tidak ada,"jelas Ardiansyah pada Jumat (17/2).
Untuk itu Pertamina dan Exxonmobil yang juga memiliki hak partisipasi sebesar 45% di lapangan JTB terus melakukan diskusi untuk menemukan solusi yang terbaik dari sisi komersial setelah pemerintah memutuskan untuk menyerahkan pengelolaan lapangan JTB pada Pertamina. Pertamina pun menargetkan pada Maret 2017 nanti sudah ada kesepakatan dengan Exxon sehingga proyek JTB bisa berjalan.
Beberapa hal yang tengah dibicarakan terkait masalah komersil menurut Ardiansyah adalah mengenai rencana Pertamina untuk memulai kegiatan di lapangan JTB tanpa Exxonmobil ikut bertanggungjawab terhadap kegiatan tersebut. Pertamina pun mengusulkan agar masalah komersial dengan Exxon diselesaikan dua tahap, yaitu tahap menentukan mekanisme komersial dengan tahap pehitungan komersial antara Pertamina dengan Exxon.
"Maksudnya kalau kami belum bisa ketemu angkanya, barangkali kami sepakati dulu mekanismenya. Biar kami sepakati masing-masing liabilitasnya, apa batas liabilitasnya sehingga kami bisa eksekusi proyeknya dan mereka tidak kebebanan dengan tanggungjawabnya," jelasnya.
Namun sejauh ini belum ada kesepakatan juga antara Pertamina dengan Exxon. Biarpun begitu Ardiansyah bilang Exxon sangat sportif terhadap keputusan pemerintah dan Exxon pun setuju untuk mempercepat proses eksekusi proyek JTB.
"Exxon sebenarnya sangat sportif, cuma ada aturan-aturan yang memang mesti kami ratifikasi misalnya masalah utilisasi agreement, aturan operasionalnya, aturan pengambilan keputusannya. Itu yang sedang kami bicarakan karena ada beberapa opsi beda-beda,"ujar Ardiansyah.
Di sisi lain Ardiansyah bilang pengerjaan early sipil work di lapangan JTB sudah dimulai. Penunjukan kontraktor EPC (engineering, procurement, and construction)pun telah dilakukan, Pertamina telah menunjuk konsorsium Rekind dan PT Japan Gas Corporation (JGC) untuk melakukan pengerjaan EPC di proyek JTB.
Sedangkan untuk proses Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG), Pertamina masih harus menunggu proses komersil dengan Exxon selesai." Kalau masih ada Exxon disini kan kami punya agreement dengan Exxon yang harus dijaga,"kata Ardiansyah.
Ardiansyah menyebut PJBG JTB diharapkan bisa dilakukan sebelum semester I 2017. Sehingga proyek JTB bisa onstream pada tahun 2020 mendatang dengan produksi sebesar 172 mmscfd dari kapasitas produksi sebesar 330 mmscfd.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/19022017_blok-cepu_20170219_195108.jpg)