EDITORIAL
Berharap pada Kecanggihan ILS
PROVINSI Jambi sangat dirugikan saat terjadi bencana asap pada akhir 2015. Penerbangan lumpuh total cukup lama. Masyarakat terpaksa harus...
PROVINSI Jambi sangat dirugikan saat terjadi bencana asap pada akhir 2015. Penerbangan lumpuh total cukup lama. Masyarakat terpaksa harus ke provinsi tetangga untuk dapat menumpang pesawat menuju tempat tujuan.
Bencana asap 2015 termasuk yang terparah melanda Jambi. Warga Jambi saja sangat sulit untuk beraktivitas di luar ruang akibat asap yang pekat. Jarak pandang di jalan-jalan sangat terbatas. Wajar jika pendaratan atau lepas landas sebuah pesawat sangat fatal jika dilakukan saat-saat itu.
Saat itu, tuntutan agar ILS (instrument landing system) segera dipasang kembali mencuat Kelengkapan fasilitas bandara Sultan Thaha Syaifuddin seolah dibanding-bandingkan dengan bandara-bandara lain.
Pihak Angkasa Pura II sudah mengoperasionalkan terminal baru Bandara STS akhir tahun 2015. Meski berpindah ratusan meter, tampilan dan fasilitas baru Bandara STS sungguh melegakan bila dibandingkan dengan kondisi terminal lama. Namun masih ada rasa khawatir di kalangan masyarakat. Akankah penerbangan kembali lumpuh jika kembali terjadi bencana asap pada 2016. Pasalnya, perangkat ILS belum terpasang.
Kita harus bersyukur, bencana asap tidak terjadi pada 2016. Dan perangkat ILS dipasang akhir tahun lalu. ILS akan membantu pilot untuk dapat mendaratkan pesawat dengan presisi tinggi di landas pacu, meskipun kondisi cuaca tidak mendukung baik karena kabut, asap, atau hujan..
Ini karena ada beberapa teknologi pada ILS, yaitu localizer, glide path, dan marker beacon.
Localizer merupakan pemancar yang memberikan sinyal pemandu azimuth mengenai kelurusan pesawat terhadap garis tengah landasan pacu. Ini membantu pesawat terbang agar dapat mendarat tepat pada garis tengah landasan.
Adapun glide path berupa pemancar yang memberikan sudut luncur pendaratan atau membantu pesawat terbang agar mendarat tepat pada touchdown.
Sedangkan marker beacon berupa pemancar yang menginformasikan sisa jarak pesawat terhadap titik pendaratan.
Sistem pemancar yang terkoneksi dengan pesawat ini sangat membantu sehingga pesawat dapat mendarat meski jarak pandang sekitar 800 meter.
Selama ini, pendaratan dari dan ke Jambi menggunakan visual pandangan pilot. Pendaratan sangat tergantung pada kepiawaian pilot masing-masing maskapai.
Wajar jika pendaratan menggunakan visual pandangan, yang sangat terbatas ini, tidak dapat menembus kabut asap pekat yang melanda Jambi saat itu.
Bandara STS adalah wajah muka bagi calon pendatang ke Provinsi Jambi. Kelengkapan fasilitas dan tingkat keamanan penerbangan yang tinggi sangat menentukan semakin meningkatkan kunjungan.
Ujicoba ILS mulai dilakukan Rabu (18/1) kemarin hingga tiga hari. Kita harapkan proses ini berjalan lancar. Hasil kalibrasi ILS ini sangat menentukan bagi dikeluarkannya sertifikasi operasionalisasi ILS tersebut, agar bencana asap kalaupun terjadi tidak akan menggangu penerbangan dari dan ke Jambi.(*)