Poundsterling Terkulai di Perdagangan Asia

Nilai tukar poundsterling tak bertenaga ke posisi terendah dalam tiga bulan terakhir di pasar Asia, Senin (16/1).

Editor: Fifi Suryani
BBC
CEO Inggris menerima Rp 107 miliar, sementara karyawan mendapat Rp 589 juta. 

TRIBUNJAMBI.COM, TOKYO - Nilai tukar poundsterling tak bertenaga ke posisi terendah dalam tiga bulan terakhir di pasar Asia, Senin (16/1). Keoknya mata uang Inggris ini terjadi seiring adanya laporan dari sejumlah media bahwa pemerintah Inggris tengah bersiap melakukan "hard" Brexit dari Uni Eropa.

Data yang dihimpun CNBC menunjukkan, pada pukul 10.00 waktu Singapura,poundsterling keok 1,04% menjadi US$ 1,2047 pada transaksi pagi tadi. Ini merupakan pelemahan paling dramatis sejak Oktober lalu, saat poundsterlingtertekan ke level terendah dalam tiga dekade terakhir di US$ 1,1819.

Sementara itu, nilai tukar euro tercatat menguat 0,85% menjadi 0,8816poundsterling. Sedangkan poundsterling melemah 1,4% terhadap yen ke posisi 137,69 yen. Sedangkan yen perkasa terhadap dollar AS ke level 114,28 yen.

Sekadar informasi, Sunday Times melaporkan, Perdana Menteri Inggris Theresa May akan segera mengumumkan "clean and hard Brexit" dan bersiap untuk menarik Inggris dari pasar Eropa. Selain itu, pihak imigrasi bersama Eropa akan mengontrol peraturan keimigrasian dan meyerahkan segara bentuk hukum ke Pengadilan Eropa.

May berniat meluncurkan proses formal dari persyaratan negosiasi Brexit dari Uni Eropa pada akhir Maret mendatang. Sayangnya, dia tidak mengelaborasi lebih jauh mengenai rencananya, sehingga membuat investor dan pebisnis menjadi frustasi.

Sumber: Kontan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved