EDITORIAL

Keakraban yang Kebablasan

Adalah Amirulloh Adityas Putra (18), Taruna Tingkat I di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Marunda di Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara,

LAGI, tindak kekerasan memakan korban kembali terjadi di lembaga pendidikan di Indonesia.
Adalah Amirulloh Adityas Putra (18), Taruna Tingkat I di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Marunda di Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, tewas lantaran mendapat tindak kekerasan oleh kelima senior taruna tingkat II, di Gedung Dormitory Ring IV, Kamar M 205 STIP, Selasa (10/1) malam.

Kekerasan yang kerap dialasankan bagian untuk mengakrabkan diri antara senior dan junior agar tidak ada gab antara mereka, namun dalam praktiknya justru kebablasan bahkan hingga berujung kematian. Padahal peristiwa seperti ini sudah kerap terjadi, sudah banyak senior yang menjadi pesakitan, diberhentikan dari pendidikannya dan pemberlakukan aturan ketat dari pihak kampus.

Lalu, mengapa kembali terjadi? Nyaris, setiap tahun selalu ada korban akibat kekerasan yang dilakukan senior pada yuniornya. Tindakan yang dilakukan pun tidak jauh berbeda, dipanggil di luar jam belajar lalu dipukuli ramai-ramai, tanpa mereka bisa membalasnya.

Seperti tindak kekerasan yang dialami Amirulloh yang terbilang keji dan tidak mendidik. Ia dipukul seniornya di bagian dada, perut, dan ulu hati hingga tewas oleh senior tingkat II. Peristiwa yang dilakukan dengan maksud mengerjai yuniornya ini, juga dialami bersamaan oleh empat yunior lainnya.

Berbeda dengan Amirulloh yang terjatuh hingga kemudian tewas, empat rekan lainnya tetap pada posisi berdiri menahan rasa sakit. Peristiwa kesekian kalinya ini, patut diwaspadai di semua lembaga pendidikan di Indonesia. Meski sudah dilarang dan diawasi, ada dugaan kekerasan seperti ini masih terjadi secara diam-diam dan mentradisi.

Dikhawatirkan, kasus yang terus terjadi ini mencerminkan kekerasan masih terjadi secara leluasa dan itu di lingkungan kampus. Faktor mentradisi ini membuat pelaku merasa boleh melakukan hal yang sama kepada yuniornya, setelah sebelumnya mereka pernah menjadi korban.

Penyebab lainnya, bisa juga disebabkan faktor psikologis. Seorang anak yang kerap menyaksikan atau menjadi korban kekerasan menganggap kekerasan adalah bagian yang biasa dilakukan. Sehingga, meski dipagar oleh aturan mereka tidak canggung untuk melanggarnya.

Mirisnya, kerap korban tewas justru tumpuan keluarga dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Beberapa diantaranya justru berprilaku baik di lingkungannnya. Kepergian korban akibat kekerasan di lembaga pendidikan yang diharapkan dapat mengantar mereka pada kesuksesan, malah melahirkan rasa pilu yang mendalam.

Peningkatkan pengawasan ke dalam kampus agar peristiwa mentradisi ini tidak lagi terjadi diharapkan terus dilakukan. Pemantauan terhadap calon peserta didik yang bermasalah secara psikologi juga tidak kalah penting, sehingga kekerasan seperti ini tidak lagi terjadi.(*)

Editor: duanto
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved