Guncangan Bursa Global di Awal Januari 2017

Tahun 2017 diperkirakan menjadi tahun yang penuh guncangan setelah banyak kejutan di tahun lalu.

Editor: Fifi Suryani

TRIBUNJAMBI.COM, NEW YORK - Tahun 2017 diperkirakan menjadi tahun yang penuh guncangan setelah banyak kejutan di tahun lalu. Hasil pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS) yang memenangkan Donald Trump membawa level kewaspadaan kian memuncak di 2017.

Pada tahun lalu, indeks bursa AS ditutup cukup cemerlang. Indeks S&P meningkat 10% di 2016. Sedangkan jika dihitung termasuk dividen yang dibayar, bisa memberi return sebesar 12%.

Imbal hasil tersebut melebihi dari yang diharapkan oleh para pelaku pasar yang disurvei Reuters pada tahun lalu. Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) menghasilkan lebih tinggi. Yakni, sebesar 13% dengan total return termasuk dividen 16%.

DJIA menjadi indeks dengan kenaikan paling tinggi sepanjang tahun 2016. Sedangkan kedua, indeks S&P. Namun, pada 2017, investor yang disurvei Reuters memprediksi indeks S&P 500 bakal meningkat satu digit saja.

Valuasi mahal

Pada tahun depan, investor melihat beberapa saham memiliki valuasi yang terlampau mahal. Sehingga hanya sedikit faktor yang bisa mengangkat harga saham. Belum lagi The Federal Reserves berencana menaikkan suku bunga beberapa kali pada 2017.

Selain itu, akan ada beberapa kebijakan Trump yang diperkirakan bisa menggembosi kinerja indeks saham. "Kita akan menatap tahun baru dengan pelemahan saham dalam jangka pendek," ujar Peter Kenny, Ahli Strategi Pasar Senior Global Market Advisory Group di New York.

Di akhir tahun lalu, gelagat pembalikan arah sudah terlihat. Data dari Lipper menunjukkan, jumlah dana yang ditarik di pasar saham AS mencapai US$ 11,8 miliar dalam sepekan yang berakhir pada 28 Desember.

Dalam beberapa tahun terakhir, pada awal tahun, terutama di bulan Januari, merupakan tahun yang sulit bagi investor pasar modal. Indeks S&P 500, semisal, pada Januari 2014, 2015, dan 2016 ra

ta-rata turun 3%. Bahkan indeks S&P dalam 10 hari pertama tahun 2016 dimulai dengan buruk. Kekhawatiran akan harga komoditas dan perlambatan ekonomi China membayangi indeks kala itu. Plus The Fed kala itu baru menaikkan suku bunga pertama kali sejak 2008.

"Banyak orang yang menunda menjual saham yang telah mencetak untung selama setahun. Mereka berharap dari pengurangan pajak yang diprediksi bisa direalisasikan pada tahun ini," kata Paul Nolte, Manajer Portofolio Kingsview Asset Management di Chicago.

Dia memperkirakan kondisi yang sama akan terjadi pada awal tahun ini. Investor masih menanti janji dari Trump untuk mengurangi pajak. Trump sendiri mulai resmi berkantor di Gedung Putih pada 20 Januari nanti.

Sumber: Kontan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved