EDITORIAL

Semakin Sadis dan Brutal

Hasil penyelidikan polisi, jumlah pelaku empat orang, dua ditangkap dan dua lagi dalam pengejaran.

Editor: Duanto AS

SEPERTI kata pepatah "sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga", dan sehebat- hebatnya kawanan perampok profesional dalam beraksi, pasti akan meninggalkan jejak.

Sekecil apapun jejak, dia tetaplah jejak yang sangat berguna bagi aparat kepolisian mengungkap tabir pembunuhan di kediaman Ir Dodi Triono di Pulomas, Jakarta Timur.

Peristiwa pembunuhan ini terbilang menyedot perhatian publik. Tidak saja karena kesadisannya, tapi modus pelaku menghabisi korban cukup unik. Sebelas penghuni rumah, termasuk tuan rumah Dodi Triono, anaknya, serta pembantu, sopir tumplek jadi satu dalam kamar mandi ukuran 1,5 x 1,5 meter yang kecil dan pengap.

Akhirnya berkat kesigapan dan ketelitian polisi, dalam waktu kurang dari 24 jam, dua pelaku Ramlan dan Erwin, berhasil ditangkap dan satu di antaranya Ramlan tewas ditembak karena mencoba melawan aparat kepolisian saat drama penangkapan di Bekasi. Erwinpun sempat ditembak pada kakinya.

Kita patut berikan apresiasi kepada aparat Polda Metro Jaya serta jajaran di bawah pimpinan Kapolda Irjen Pol M Iriawan, yang begitu cepat mengendus pelaku sekaligus membekuknya.

Hasil penyelidikan polisi, jumlah pelaku empat orang, dua ditangkap dan dua lagi dalam pengejaran.

Kata Kapolda motif pelaku adalah perampokan yang diikuti pembunuhan. Ini bisa dibuktikan dengan ditemukan satu tas ransel, dan satu tas jinjing.

Kedua pelaku adalah residivis kambuhan yang memang dikenal sadis. Dalam catatan kepolisian, Ramlan sudah malang melintang di "dunia kejahatan" dan sudah lama menjadi target operasi (TO).

Dengan tertangkapnya dua pelaku paling tidak sudah bisa membuka tabir dari misteri yang sebelumnya berkembang luas di tengah khalayak. Suara-suara sumbang beredar bahwa, ada indikasi korban sengaja dihabisi karena ada unsur balas dendam. Dan ada lagi yang menyebutkan pelaku diduga merupakan pembunuh bayaran.

Satu tahapan yang pelik sudah berhasil dilewati oleh aparat kepolisian, dan pengusutan belumlah final, dan bisa berkembang mengarah kepada motif lain dibalik perampokan disertai pembunuhan ini. Melihat dari perawakan, pelaku yang ditangkap sangat "sangar" palagi di sekujur tubuhnya dihiasi banyak tato.

Bisa saja perampokan itu sebuah modus untuk mengalihkan motif yang sesungguhnya. Tapi percayalah, Pak polisi kita dalam menjalankan tugasnya sudah dibekali keahlian untuk tidak gampang terjebak dalam "permainan" kawanan penjahat.

Mencermati dari kejadian ini membuktikan bahwa aksi kejahatan semakin nekat. Mereka juga tidak pandang bulu, tidak peduli wanita dan anak-anak tetap menjadi sasaran demi melancarkan aksinya. Mereka tidak takut kalau lokasi tempat mereka beraksi adalah pemukiman elit yang dijaga satuan pengamanan (Satpam). Lalu kenapa kok bisa lolos?

Di sinilah peran kita sebagai anggota keluarga bisa mempolisikan diri sendiri. Artinya kita bisa cepat tanggap, bertindak, mengantisipasi, serta sigap dalam melihat sesuatu yang mencurigakan, paling tidak di lingkungan tempat tinggal kita. (*)

Sumber: Tribun Jambi
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved