EDITORIAL

Bersama Menghapus Teror

BELUM lepas dari rasa ngeri setelah dibekuknya terduga teroris di Bekasi beserta 'pengantinnya' pada 10 November lalu, lagi terduga teroris digerebek

Editor: Duanto AS

BELUM lepas dari rasa ngeri setelah dibekuknya terduga teroris di Bekasi beserta 'pengantinnya' pada 10 November lalu, lagi terduga teroris digerebek oleh Densus 88 kemarin pagi, di kawasan kontrakan di Tangerang Selatan. Kali ini selain menemukan bom aktif, polisi juga menembak di tempat tiga orang pelaku hingga tewas. Satu orang dibekuk hidup.

Dikisahkan oleh polisi sempat ada perlawanan dari terduga teroris, bahkan salah satunya melemparkan bom molotov. Lokasi pun langsung diramaikan oleh masyarakat yang hendak melihat langsung.

Sehari sebelumnya, kita juga dikejutkan aksi teror di Ankara, Turki, saat di depan orang banyak seorang pria menembak dubes Rusia. Sementara di Jerman, aksi teror menewaskan belasan orang dan puluhan lainnya terluka setelah seorang sopir truk dengan sengaja menyerudukkan truknya ke arah keramaian.

Masih ingat cara teror dengan truk ini, yang merupakan pertama kalinya, sebelumnya berlangsung di Nice, Perancis pada pertengahan Juli lalu, dengan jumlah korban tewas sekitar 80 orang lebih.

Ada lagi, hampir bersamaan dengan tertangkapnya sang "pengantin" di Bekasi, sehari setelahnya yaitu 11 November, empat buah bom meledak di empat negara. Yaitu di Istanbul Turki yang menewaskan 40 orang lebih, di Kairo Mesir yang menewaskan 24 orang, di Aden Yaman dengan 48 tentara tewas, dan di Somalia yang menewaskan 22 orang. Diingatkan lagi, ini terjadi sehari setelah polisi di Indonesia menggerebek teroris di Bekasi yang berencana meledakkan bom pancinya di Istana Negara.

Betapa mengerikannya melihat teror oleh sekelompok orang yang seringkali mengatasnamakan keyakinan ini susul menyusul terjadi beserta korban berjatuhan.

Apresiasi pada polisi dengan sigapnya telah melumpuhkan terduga teroris beserta rencana mereka untuk membuat kekacauan pada momen hari besar dan tahun baru nanti. Meski aksi polisi yang terus menembak mati terduga teroris tak pelak mendapat sorotan tajam dari pegiat HAM. Di lain pihak melihat merebaknya aksi-aksi terorisme semacam ini, dengan korban-korban jiwa yang berjatuhan, pemerintah, beserta pemuka agama dan masyarakat luas serta media terus turut serta melakukan langkah preventif untuk meredam paham radikalisme. (*)

Sumber: Tribun Jambi
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved