EDITORIAL
Memicu Daya Saing dengan UN
Jika kemudian UN ditiadakan, apakah menjadi jaminan lulusan sekolah memang murni atas kemampuannya sendiri? Pasalnya, pihak sekolah punya hak memutusk
KETIKA Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mewacanakan penghapusan Ujian Nasional (UN) respon pro dan kontra pun mengapung atas rencana itu. Ada yang memberikan dukungan, karena UN bukan satu-satunya tolok ukur pencapaian target pembelajaran siswa. Pihak sekolah dan guru dinilai lebih tahu kemampuan anak didiknya, ketimbang lembaran soal ujian nasional
Di sisi lain, perilaku korup penyelenggara pendidikan justru menjadi alasan harus digelarnya UN. Hal ini tercermin dari kecurangan yang terjadi saat UN berlangsung tahun-tahun sebelumnya, seperti beredarnya kunci jawaban hingga dugaan mark up nilai dengan kompensasi tertentu.
Jika kemudian UN ditiadakan, apakah menjadi jaminan lulusan sekolah memang murni atas kemampuannya sendiri? Pasalnya, pihak sekolah punya hak memutuskan lulus atau tidak lulusnya siswa.
Selaras dengan hal tersebut, kemarin pemerintah memutuskan UN tetap diadakan dengan melakukan sejumlah langkah penyempurnaan agar UN dapat menjadi pendongkrak intelektualitas murid. Diantaranya dengan mendorong perbaikan kualitas guru, dan meningkatkan kualitas kisi-kisi UN.
Sisi negatif ditiadakannya UN juga diungkapkan Kadisdik Provinsi Jambi, Rahmat Derita yang mengapresiasi keputusan presiden tersebut. Menurutnya jika UN di hapuskan maka kualitas pendidikan tidak akan semakin membaik, malah dikhawatirkan menurun.
Karena siswa jadi tidak serius belajar, karakter anak untuk belajar berkurang, karena mereka santai UN dihapuskan. Kekhawatiran terjadinya kecurangan juga diungkapkan Rahmat, akan adanya permainan dari pihak sekolah/guru dalam menentukan kelulusan siswa.
Ujian adalah bagian dari proses belajar-mengajar untuk mengevaluasi kemampuan siswa. Ujian sudah menjadi bagian dari dunia pendidikan yang mau tidak mau harus dihadapi peserta didik Guna mendapatkan nilai/hasil terbaik siswa meningkatkan kemampuannya dengan memaksimalkan proses belajarnya.
Terkadang mencoba mengikuti try out untuk memantau sejauh mana hasil pembelajaran yang sudah dilakukan selama ini. Proses persiapan, pelaksanaan hingga menunggu hasil ujian nasional juga bagian dari pendidikan karakter siswa, agar mereka terus berusaha, tetap optimis, disiplin dan objektif dalam dalam mengikuti ujian.
Semoga saja, sisi positif ini dapat dipahami siswa sehingga mereka mampu meningkatkan daya saingnya lebih dini, melalui ujian nasional.(*)