Kamis, 9 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Teroris Rekrut Perempuan karena Tidak Mudah Dicurigai

Sepekan terakhir, sebanyak empat perempuan ditangkap Densus 88 karena diduga terlibat aksi teror.

Editor: Rahimin
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Tim Puslabfor Polri bersama Tim Densus 88 Antiteror melakukan olah tkp rumah kontrakan terduga teroris di Bintara, Bekasi, Jawa Barat, Minggu (11/12/2016). Puslabfor Polri membawa lima paper bag dan dua kardus ukuran sedang usai melakukan olah tkp lanjutan atas penggerebekan terduga teroris dan penemuan bom berdaya ledak tinggi pada Sabtu (10/12/2016). 

TRIBUNJAMBI.COM - Sepekan terakhir, sebanyak empat perempuan ditangkap Densus 88 karena diduga terlibat aksi teror. Penangkapan pertama dilakukan terhadap calon 'pengantin' yang akan meledakkan diri di Istana Negara, Dian Yulia Novi.

Kemudian, Arinda Putri Maharani yang merupakan istri Nur Solihin, ditangkap karena mengetahui keberadaan bahan peledak dan pembuatan bom, termasuk memfasilitasi penerimaan uang untuk membuat bom.

Seorang ibu rumah tangga berinisial TS alias UA‎, juga diciduk di Tasikmalaya, Jawa Barat. Ia diduga berperan ‎menawarkan jihad pada Dian Yulia Novi.

TS alias UA juga‎ memotivasi serta mempertemukan Dian Yulia Novi dengan terduga teroris Nur Solihin, yang ditangkap di bawah flyover Kalimalang.

Terakhir, perempuan yang ditangkap adalah Ika Puspitasari, di Purworejo‎ pada Kamis (15/12/2016), saat sedang menyiapkan kegiatan Maulud Nabi Muhammad SAW.

Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Boy Rafli Amar, turut berkomentar mengapa belakangan jaringan teroris, utamanya pimpinan Nur Solihin, kerap merekrut para perempuan untuk terlibat aksi teror.

Menurut Boy Rafli Amar, kaum perempuan lebih mudah masuk di masyarakat dan tidak mudah dicurigai.

Alasan itulah yang dimanfaatkan jaringan teror Nur Solihin.

"Kaum perempuan biasanya tidak mudah dicurigai, makanya kelompok teror menggunakan perempuan agar tidak dicurigai. Padahal dibalik itu ada rencana aksi," jelas Boy Rafli Amar, Sabtu (17/12/2016).

Boy Rafli Amar menambahkan, perempuan yang selalu terkesan ‎memberikan damai dan kesejukan, dimanfaatkan oleh para terorisuntuk mengelabui obyek yang menjadi sasaran aksi mereka.

"Perempuan sebenarnya tidak rentan juga dipengaruhi, karena umumnya perempuan punya kecurigaan tinggi. Hanya memang ada yang terpengaruh oleh mereka (kelompok teror)," papar jenderal bintang dua itu.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved