Ada Karya Repro di Biennale Sumatera 3 Jambi
Suharno Manap berkomentar panjang terkait karya-karya yang dipajang di Sumatera Biennale dua pekan lalu
Penulis: Jaka Hendra Baittri | Editor: Fifi Suryani
Laporan Wartawan Tribun Jambi, Jaka HB
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Suharno Manap berkomentar panjang terkait karya-karya yang dipajang di Sumatera Biennale dua pekan lalu di Taman Budaya Jambi.
Dia memberi contoh misalnya dalam suatu pameran lukisan dikelompokkan dalam satu aliran. Semisal realis dengan realis atau abstrak dengan abstrak. Selain itu juga mulai dari bagaimana penempelan karya seni rupa di dinding, warna dinding hingga tinggi peletakan lukisan.
“Ada dinamika yang dirasakan saat kita masuk ke ruang pameran. Itu pengunjung dapat menilainya sendiri,” katanya.
Dirinya sempat mengkritik beberapa lukisan naturalis dan realis yang dipamerkan. Ada karya yang kuat dan yang lemah secara simbolik dan penyampaian makna.
“Seperti ini, kita bisa lihat bagaimana ukuran manusia dan perahunya apakah sesuai dengan kenyataan,” ungkapnya sembari menunjuk lukisan deretan perahu di sepanjang Sungai Musi dan berdekatan dengan jembatan ampera.
Selain itu dia juga mengkritik lukisan repro Basuki Abdullah oleh almarhum Ahmad Haris.
“Seharusnya ditulis repro. Ini tidak bisa di biennale,” ungkapnya sembari melihat lukisan yang judulnya sama dengan lukisan asli, Banteng dan Harimau.