Sentimen-sentimen Pemberat Rupiah

Otot rupiah kembali kendur terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Mengacu data Bloomberg, Selasa (29/11)

Editor: Fifi Suryani
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Karyawan menunjukkan uang pecahan Rp 100 ribu baru (atas) dan yang lama, usai peluncuran uang NKRI tahun emisi 2014 di kantor Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Senin (18/8/2014). Bank Indonesia bersama Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan dan mengedarkan Uang Rupiah Kertas Pecahan Rp. 100.000 Tahun Emisi 2014 yang bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke-69 Kemerdekaan Republik Indonesia. 

TRIBUNJAMBI.COM,  JAKARTA - Otot rupiah kembali kendur terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Mengacu data Bloomberg, Selasa (29/11) pukul 10.01 WIB, rupiah di pasar spot ke Rp 13.551 per dollar AS atau melemah 0,14% dari penutupan kemarin Rp 13.532 per dollar AS.

Senasib, rupiah pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar (JISDOR) turun 0,61% ke level Rp 13.549 per dollar AS dari posisi kemari Rp 13.467 per dollar AS.

"Nilai tukar rupiah relatif bergerak stabil. Pasar cenderung masih dibayangi beberapa kekhawatiran seperti inflasi November 2016 yang berpeluang naik serta rencana demonstrasi pada akhir pekan ini," kata ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta dikutip dari Antara.

Ia menambahkan bahwa permintaan dollar AS menjelang akhir bulan yang meningkat juga turut membuat pergerakan rupiah cenderung melemah meski berada dalam kisaran terbatas.

Namun, menurut dia, rupiah juga masih berpotensi untuk kembali menguat menyusul Imbal hasil surat utang negara (SUN) yang mulai turun mengikuti global, itu menandakan mulai meredanya aliran keluar dana asing dari dalam negeri.

Ia menambahkan bahwa pelaku pasar uang juga mulai dapat memperhitungkan efek negatif dari hasil pemilihan presiden Amerika SerikatDonald Trump.

Di sisi lain, lanjut dia, harga minyak berpeluang naik setelah anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) menyatakan sepakat untuk memangkas jumlah produksi walaupun finalisasi masih menunggu kesepakatan atas besarannya.

Sementara itu, Pengamat pasar uang Bank Woori Saudara Indonesia Tbk, Rully Nova mengatakan bahwa menjelang rencana bank sentral AS (The Fed) untuk menaikan suku bunga acuannya, sebagian pelaku pasar masih cenderung "wait and see".

"Pergerakan mata uang negara berkembang masih dibayangi oleh potensi kenaikan suku bunga AS," katanya.

Sumber: Kontan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved