Jarak Harga Petani Sawit Swadaya Masih Jauh

Harga sawit ditingkat petani swadaya terus memprihatinkan. Saat ini, disparitas harga tandai buah segar

Jarak Harga Petani Sawit Swadaya Masih Jauh
KONTAN/PANJI INDRA

Laporan Wartawan Tribun Jambi, Tommy Kurniawan

TRIBUNJAMBI.COM JAMBI - Harga sawit ditingkat petani swadaya terus memprihatinkan. Saat ini, disparitas harga tandai buah segar (TBS) dari petani sawit swadaya dan plasma sangat mencolok. Kon­disi itu juga berimbas ke pendapatan mere­ka, terutama di saat harga TBS anjlok.

Ketika harga sawit anjlok di pasaran, petani sawit swadaya yang tidak memiliki perusahaan sebagai mitra seakan terombang ambing. Harga jual­nya tidak menentu, dan tidak ada patokan yang menjadi acuan. Acuannya, berdasarkan kesepa­katan jual beli antara si petani dengan pembeli.

Di sisi lain, harga sawit petani plasma ditentukan berdasarkan hasil rapat harga yang setiap pe­kan dibahas Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Jambi bersama perwak­ilan perusahaan perkebunan dan perwakilan petani plasma. Pekan ini, harga sawit plasma usia tanam 10 - 20 tahun harganya Rp1.823/kg, usia 21 s.d. 24 tahun Rp1.769/kg, dan di atas 25 tahun Rp1.690/kg.

"Jarak harga sawit dari petani plasma jauh tingginya dengan petani swadaya. Dari petani swadaya hanya dihargai Rp 1.050/kg oleh sejumlah perusahaan," ungkap Usman Halik, Ketua Petras Muaro Jambi,

Usman mengaku kondisi sangat memprihatinkan, karena keuntungan yang didapatkan petani swadaya sangat sedikit.

"Belum lagi ongkos sewa truk dan bongkat muat barang. Petani swadaya hanya mendapatkan kisaran Rp 600/kg," akuinya.

Berbeda halnya dengan petani sawit plasma, harga sawit mere­ka selalu di atas rata-rata. Di saat harga sawit rendah di pasaran, petani sawit plasma masih dap­at bernapas lega. Karena mereka telah melakukan kerja sama dengan para perusahaan, se­hingga harga dapat terus dijaga.

Kecemburuan tersebut belum juga kunjung mereda sejak beberapa tahun silam. Hingga saat ini, masih banyak petani sawit swadaya yang hasil kebunnya masih di­hargai dengan uang recehan per kilogram buahnya.

Persoalan yang dihadapi petani swadaya ini, persoalan klasik jika diband­ingkan dengan petani plasma bi­naan perusahaan.

"Kalau petani plasma, mereka dari awal sudah terikat dengan perusahaan, jadi mereka aman,” katanya.

Penulis: Tommy Kurniawan
Editor: fifi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved