Rabu, 8 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

EDITORIAL

Pengawasan Intensif Jalur Gelap TKI

MUSIBAH yang menimpa tenaga kerja Indonesia (TKI) ilegal kembali terjadi. Kapal motor pengangkut lebih dari 100 TKI ilegal beserta keluarganya

Editor: Duanto AS

MUSIBAH yang menimpa tenaga kerja Indonesia (TKI) ilegal kembali terjadi. Kapal motor pengangkut lebih dari 100 TKI ilegal beserta keluarganya tenggelam di perairan Batam, Kepulauan Riau (Kepri), terjadi Rabu (2/11) subuh. Hingga semalam, 18 orang ditemukan tewas, 39 selamat, dan lebih dari 40 orang lainnya belum diketahui nasibnya.

Hingga semalam, tim evakuasi dari Polda Kepri, TNI AL, Basarnas, dan masyarakat setempat berjibaku mencari korban, baik yang selamat maupun yang meninggal. Pencarian tidak semata di lokasi kapal motor tenggelam, namun juga daerah perairan sekitarnya mengingat saat kejadian ombak sedang tinggi.

Sejauh ini, dari daftar korban selamat yang diterbitkan menunjukkan, mayoritas korban selamat berasal dari Indonesia Timur. Kita berharap tidak ada warga Jambi menjadi korban dalam peristiwa kemarin.

Kematian TKI ilegal ini mengingatkan kita pada kasus empat TKI ilegal Kerinci yang akan pulang kampung secara ilegal dari Malaysia. Tiga di antara TKI tewas akibat kejahatan yang dilakukan oknum yang semestinya mengantarkan mereka pulang.

Peristiwa kemarin adalah bukti pekerjaan rumah kita, termasuk di Provinsi Jambi, tentang TKI ilegal masih jauh dari selesai.

Seperti diakui pihak Dinsosnakertrans Provinsi Jambi, bahwa TKI ilegal tetap marak, bahkan semakin meningkat sejak adanya moratorium. Sejumlah daerah di Provinsi Jambi yang warganya menjadi TKI ilegal di antaranya adalah Kabupaten Kerinci, Kota Sungai Penuh, Kabupaten Merangin, dan Kabupaten Batanghari.

Meski telah dilakukan sosialisasi tentang risiko menjadi TKI ilegal, nyatanya mengais rezeki di negeri jiran tetap menjadi magnit. Banyak faktor menjadi penyebabnya. Paling utama tentunya faktor ekonomi dan sulit mencari pekerjaan di daerah sendiri.

Kebutuhan ini mendapat sambutan dari oknum-oknum tertentu. Mereka mendatangi ke pelosok- pelosok untuk merekrut mereka yang ingin menjadi TKI.

Ibarat lagu, kasus TKI ilegal ini seperti lagu lama yang muncul kembali dengan aransemen berbeda. Jika dulu menjadi TKI, warga harus melalui jalur tikus, kini sebagian besar TKI ilegal berangkat menggunakan paspor resmi dan visa pelancong. Namun setelah masa visa habis, mereka tetap berada di negara tersebut. Bekerja tentunya, hingga bertahun-tahun.

Dan saat akan pulang, paspor sudah tidak berlaku. Kalaupun jalur resmi kepulangan dilalui, biaya cukup mahal. Akhirnya, mereka memilih pulang secara ilegal dengan biaya yang dianggap lebih ringan.

Melihat pengakuan korban selamat kemarin, mereka harus sembunyi-sembunyi saat akan meninggalkan daratan Malaysia. Mulai berangkat dari tempat bekerja, berkumpul di satu tempat agen, berjalan mengendap-endap ke kegelapan malam hingga mencapai bibir pantai tempat tekong akan menyeberangkan ke daratan Indonesia.

Dalam situasi ini, kita bisa paham jika masalah keamanan dan keselamatan mereka bukan menjadi prioritas. Hingga musibah kemarin terjadi.

Kita berharap upaya-upaya meminimalisasi TKI ilegal terus digencarkan. Bukan saja karena ada musibah seperti kemarin. Jalur-jalur tikus dan tempat pendaratan mereka di daratan kita (Indonesia, Red) perlu diintensifkan. Tentunya melalui koordinasi dengan pihak terkait di negeri Jiran. (*)

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved