Sektor Pertanian di Jambi Masih Butuh Pembenahan

JAMBI Kepala Dinas Pertanian Provinsi Jambi, Amrin Aziz mengaku bahwa produksi padi saat ini mengalamk surplus 250 ribu ton.

Sektor Pertanian di Jambi Masih Butuh Pembenahan
TRIBUNJAMBI/TOMMY KURNIAWAN
Menteri Pertanian Amran Sulaiman panen kedelai di Tanjung Jabung Timur, Selasa (6/9) 

Laporan Wartawan Tribun Jambi. Tommy Kurniawan

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI Kepala Dinas Pertanian Provinsi Jambi, Amrin Aziz mengaku bahwa produksi padi saat ini mengalamk surplus 250 ribu ton. Kemudian menyumbang kebutuhan pangan nasional sebanyak 65 ribu ton. Sisanya untuk meningkatkan kesejahteraan petani dengan harga pembelian pemerintah (HPP) mencapai Rp7.300 ribu per kilogram.

Namun, Aziz menjelaskan, sampai saat ini masih cukup banyak kendala yang belum terselesaikan, diantaranya masih terbatasnya irigasi, kemudian minimnya varietas unggul lokal yang kini baru mencapai 3.5 ton perharinya.

"Potensi di dataran tinggi masih banyak seperti Kabupaten Kerinci. Namun masih banyak pembenahan dan kini masih diuji coba disana apa yang berpotensi disana, karena secara nasional belum ada produktivitas unggul," katanya. 

Selanjutnya di daerah hilir khususnya di Kabupaten Tanjabtim dan Tanjabbar, menurut Amrin, masih banyaknya hama burung dan sering terjadinya kekeringan membuat para petani hanya bisa melakukan masa panen hanya satu kali.

"Padahal sebenarnya bisa dua kali, tapi kendala petani disana belum terselesaikan, masih ada sisa September sampai Desember ini, tapi mau gimana lagi," tuturnya.

Tak hanya itu, permasalahan yang cukup menonjol yang kini belum terselesaikan yakni masih banyaknya alih fungsi lahan di beberapa wilayah di Provinsi Jambi.

"Kalau dialihkan ke perkebunan tidak masalah, ini malah dialihkan ke pembangunan. Kalau sudah jadi bangunan ya sulit. Kalau dialihkan ke kebun paling beberapa tahun kemudian mereka bisa kembali ke padi lagi," jelasnya.

Amrin menuturkan, setidaknya ada sekitar 500 hektare di Provinsi Jambi luas lahan yang sudah dialihfungsikan ke bangunan permanen. Mirisnya, Amrin mengaku 100 hektare diantaranya dilarikan masyarakat menjadi wilayah pertambangan.

"Apa lagi kalau dialihkan ke sawit, itu tanahnya tidak subur lagi, karena sawit cukup serakah butuh airnya," jelasnya.

"Tapi rata-rata masyarakat sudah menyadari kalau sawit itu pendapatanya kecil ,kalau padi lima ton saja bisa mencapai 50 juta, target 100 juta setahun bisa tembus," katanya.

Penulis: Tommy Kurniawan
Editor: fifi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved