EDITORIAL
Genjot Penerbangan Daerah
PELUANG meramainya lalu lintas udara di Provinsi Jambi semakin cerah. Gubernur Zumi Zola dan SKPD menggelar pertemuan dengan bupati, sekda, PT Angkasa
PELUANG meramainya lalu lintas udara di Provinsi Jambi semakin cerah. Gubernur Zumi Zola dan SKPD
menggelar pertemuan dengan bupati, sekda, PT Angkasa Pura II sebagai pihak pengelola Bandara Sultan
Thaha dan sejumlah maskapai, Selasa (11/10).
Pertemuan itu membahas rencana penambahan rute penerbangan di Bandara Depati Parbo Kerinci dan
Bandara Muaro Bungo. Sebagaimana diketahui, dua bandara di daerah itu masih dikelola Kementerian
Perhubungan alias pemerintah, bukan seperti Bandara Sultan Thaha Jambi yang dikelola PT Angkasa Pura II yang berbentuk badan usaha.
Bukan rahasia umum, akses ke kabupaten-kabupaten Jambi masih terbatas untuk moda transportasi darat, seperti mobil. Nah, bisnis di sektor transportasi ini masih dikuasai pemilik biro jasa travel. Untuk pesawat dan kereta api, yang notabene moda transportasi umum, sangat terbatas bahkan belum tersedia. Padahal, di sisi lain masyarakat membutuhkan moda transportasi umum yang cepat.
Menilik peluang di sana, seperti diungkapkan Sekda Kerinci Afrizal Afrizal, rute penerbangan di Bandara Departi Parbo baru empat penerbangan (flight) seminggu. Pemkab telah menyurati pemerintah pusat terkait penambahan rute. Antara lain Kerinci-Padang, Kerinci-Dumai, Kerinci-Padang.
Ada nilai penting dengan pembukaan rute tambahan itu. Semisal tujuan Padang, mengingat banyak masyarakat Kerinci berdomisili di Padang. Selain itu, sejumlah pengusaha juga banyak berasal dari Padang.
Sementara rute Kerinci-Dumai juga penting diterapkan, karena ada 45 ribu warga Kerinci yang berada di
Malaysia. Senada, Wakil Bupati Bungo, Safrudin Dwi Apriyanto, mengungkapkan sejak rute Muaro Bungo-Jakarta Juli lalu, antusiasme masyarakat pengguna jasa penerbangan naik. Namun, itu masih terkendala pada frekuensi penerbangan yang terbatas.
Mengapa disebut itu peluang bagus?
Data statistik, pertumbuhan penumpang di bandara ini, pada Juli 2016, rerata penumpang datang 102 orang atau 85 persen jumlah seat. Rerata jumlah penumpang berangkat 111 orang atau 92,50 persen seat maksimum. Di Agustus 2016, terjadi peningkatan. Rerata penumpang datang 102 orang atau 87,50 persen seat maksimum. Rerata penumpang berangkat 104 orang atau 86,67 persen dari jumlah maksimum seat.
Berkaca pada data statistik dan relasi yang dibentuk, penerbangan daerah merupakan peluang bisnis bagi penyedia jasa penerbangan. Bagi maskapai yang berminat, sebaiknya melakukan uji pasar untuk dua bandara itu.
Tanpa melupakan risiko bisnis, ada beberapa faktor perlu diperhatikan maskapai. Dari strategi bisnis, kondisi alam, sosial-politik, regulasi, operasional, finansial, teknologi-SDM dan lain sebagainya. Di lain pihak, faktor-faktor ini juga harus diperhatikan pemerintah,sebelum menggandeng maskapai masuk.
Karena selain misi bisnis alias profit, tentu ada misi pemerataan transportasi yang diemban pebisnis maskapai. Pemerintah daerah harus berani mendorong pemerintah pusat memperbaiki infrastruktur yang jelas masih kurang dan memberikan peluang untuk maskapai (*).