Bukan Cuma di Pelosok, di Kota Jambi Dukun Beranak Masih Dicari
mereka tidak hanya dipergunakan oleh warga yang berada jauh dari fasilitas kesehatan, tapi tak terkecuali oleh warga yang relatif sangat dekat dengan
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI – Pengguna jasa dukun beranak dalam persalinan masih cukup banyak di Provinsi Jambi.
Jasa mereka tidak hanya dipergunakan oleh warga yang berada jauh dari fasilitas kesehatan, tapi tak terkecuali oleh warga yang relatif sangat dekat dengan pusat kesehatan, seperti di Kota Jambi.
“Data pastinya kami tidak tahu, tapi yang jelas masih ratusan, paling banyak di kabupaten,” ungkap Elfi Rahmawati, Direktur Eksekutif Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jambi, Sabtu (8/10) mengenai jumlah dukun beranak atau istilahnya pembatra (pemberi pengobatan tradisional).
Di Kota Jambi, terangnya, Legok menjadi wilayah dengan pengguna jasa pembatra yang tinggi. Sementara untuk di tingkatan provinsi, pengguna jasa pembatra cukup besar di Kabupaten Merangin.
Baca Juga : Pria Ini Tertangkap Kamera Pamer Kemaluan di MIN Kota Jambi
Di tahun 2014, data dari mitra PKBI di Merangin, di Kecamatan Pemenang dan Pemenang Barat jumlah pembatra sudah lebih dari 30 orang.
“Pembatra mengambil peran penting di wilayah itu,” katanya.
Menurutnya, masih banyaknya pengguna jasa pembatra ini disebabkan tingkat kepercayaan kepada pembatra masih tinggi.
Tingkat kepercayaan itu tidak terlepas dari sudah tingginya jam terbang dari dukun beranak tersebut membantu persalinan di sekitar wilayah pengguna jasanya. “Usia pembatra itu umumnya sudah tua-tua,” terangnya.
Berbeda dengan bidan, banyak yang masih muda, apalagi di daerah yang jauh dari pusat kota. Usia, ucapnya, masih dipandang sebagai penentu kemampuan seseorang oleh sebagian orang.
Makin tua dianggap lebih tinggi keberhasilannya, sebab pengalamannya sudah lebih banyak. Persepsi ini juga membuat peran dari bidan di sejumlah daerah menjadi kurang optimal.
Faktor lainnya adalah terkait biaya persalinan. Pembatra pada umumnya tidak mematok tarif, bisa dibayar sesuai kemampuan pengguna jasanya.
Sementara di bidan, ucapnya, ada biaya yang sudah dipatok harus dikeluarkan.
“Tidak semua masyarakat kita punya kartu BPJS, apalagi sekarang BPJS harus masuk langsung satu keluarga,” bebernya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/20160910_grafis-dukun-beranak-vs-bidan_20161009_215859.jpg)