Tax Amnesty
Repatriasi tak Maksimal Dorong Cadangan Devisa
Cadangan devisa Indonesia naik tipis. Walau program amnesti pajak periode pertama berhasil menarik
TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Cadangan devisa Indonesia naik tipis. Walau program amnesti pajak periode pertama berhasil menarik dana repatriasi sebesar Rp 139,8 triliun, namun selama tiga bulan tersebut kenaikan cadangan devisa hanya sebesar US$ 5,9 miliar.
Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan, per 30 Juni 2016 nilai cadangan devisa sebesar US$ 109,78 miliar, naik menjadi US$ 111,4 miliar di akhir Juli 2016. Sementara Agustus 2016 naik menjadi US$ 113,5 miliar. Hingga akhir September 2016, cadangan devisa US$ 115,7 miliar.
Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara bilang, posisi cadangan devisa akan terus mengalami peningkatan. Ini dipicu arus modal asing yang terus masuk sejak awal tahun 2016. "Tren terus membaik. Capital inflow akan memperkuat cadangan devisa," ujarnya, Jumat (7/10).
Masuknya arus modal, menurutnya, lebih banyak disebabkan karena sentimen pelaku pasar. Sedangkan realisasi komitmen repatriasi dari amnesti pajak mungkin akan mengalir deras di akhir tahun. Sebab sesuai Undang-Undang (UU) Pengampunan Pajak, realisasi repatriasi paling lambat 31 Desember 2016.
"Capital inflow dari amnesti pajak masih kita tunggu realisasinya. Yang di luar itu masih masuk," jelasnya.
Dia mengatakan, dari awal tahun sampai kemarin atau year to date, aliran modal dari luar yang masuk ke Indonesia telah menembus Rp 165 triliun. Ini meningkat dibandingkan sepanjang tahun 2015 di kisaran Rp 55 triliun.
Kepercayaan naik
Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, dana repatriasi belum semuanya dibawa masuk ke dalam negeri sehingga potensi kenaikan cadangan devisa hingga akhir tahun akan terus naik.
Selain menaikkan cadangan devisa, menurut Josua, amnesti pajak juga memberikan sentimen positif pada pasar keuangan Indonesia khususnya menjelang akhir periode pertama. Sebab di akhir bulan September lalu ada peningkatan uang tebusan dan repatriasi sehingga mendorong investasi portofolio.
"Ini mengindikasikan potensi surplus neraca pembayaran yang merefleksikan peningkatan cadangan devisa," ungkapnya.
Peningkatan cadangan devisa juga tercermin dari penguatan rupiah selama September 2016 sebesar 0,4% ke level Rp 13.110 per US$ serta capital inflow di pasar obligasi sebesar US$ 1,2 miliar.
"Peningkatan cadangan devisa memberikan kepercayaan bagi investor pasar keuangan," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/22122015_uang-banyak_20151222_195744.jpg)