EDITORIAL

Jangan Memaksa Konsumen

BAHAN bakar minyak (BBM) jenis premium, atau yang lebih populer dengan sebutan bensin, kini kian sulit didapatkan di Jambi.

Editor: Duanto AS

BAHAN bakar minyak (BBM) jenis premium, atau yang lebih populer dengan sebutan bensin, kini kian sulit didapatkan di Jambi. SPBU rerata masih menjualnya, hanya saja tempat pengisian untuk konsumen premium sudah dikurangi secara perlahan sejak beberapa bulan terakhir, lalu dialihkan menjadi tempat pengisian BBM jenis pertalite.

Kondisi ini membuat konsumsi premium di Jambi secara keseluruhan terkoreksi sangat dalam, dan di sisi lain, konsumsi pertalite meroket sangat tinggi. Pertamina mengklaim kondisi ini merupakan dampak dari meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mendapatkan BBM dengan kadar oktan lebih bagus dengan harga relatif murah. Kadar oktan pertalite memang lebih tinggi dari premium.

Namun, apakah meningkatnya konsumsi pertalite ini memang karena keinginan dari penggunanya atau konsumen yang ingin beralih? Ataukah karena dipaksa secara tidak langsung oleh Pertamina maupun pengusaha SPBU? Bila memang betul-betul karena keinginan masyarakat yang ingin bisa mendapatkan BBM beroktan lebih bagus, ini berarti harga tak lagi jadi patokan utama masyarakat.

Hanya saja, melihat situasi di lapangan, baik di kota maupun di daerah, sepertinya ada pemaksaan secara tidak langsung agar pengguna premium beralih ke pertalite. Hal ini terlihat jelas dari tempat untuk mengisi premium yang dikurangi, yang tentu saja diiringi pasokan premium ke SPBU yang juga turun. Secara otomatis, premium cepat habis, sehingga banyak yang terpaksa beli pertalite.

Selain itu, semakin sedikitnya nozzle untuk mengisi premium karena telah diganti menjadi nozzle pertalite, membuat konsumen akhirnya memilih pertalite daripada mengantre panjang. Memang kita juga harus akui, memang tidak sedikit warga, terutama mulai dari kalangan menengah, yang ingin beralih ke pertalite.
Mereka menyadari kadar oktannya lebih bagus dibanding premium.

Dilihat dari capaian jangka pendek, Pertamina tergolong sukses meminimalisir konsumsi premium dan mengalihkan penggunanya menjadi konsumen pertalite. Hanya saja di balik kesuksesan ini, banyak suara miring dari masyarakat, bernada kekesalan, terutama kalangan menengah ke bawah. Pengeluaran mereka semakin besar, walau mungkin penambahan biaya BBM itu hanya secuil saja bagi yang berkecukupan.
Namun yang pasti, mereka merupakan bagian yang tak bisa dilupakan.
Ini mengisyaratkan bagi pemangku kepentingan, terutama Pertamina, supaya tetap memperhatikan keberadaan pengisian premium di setiap SPBU. Jangan sampai ada SPBU yang tidak lagi menjual premium.
Ketersediaannya jangan sampai dianaktirikan, seperti yang terjadi di beberapa SPBU di sejumlah daerah.
Pasokannya harus terus dijamin tidak terputus, dan mencukupi untuk konsumen.

Demikian juga dengan pengusaha SPBU, perlu memperhatikan golongan masyarakat menenang ke bawah, yang masih lebih suka premium karena harganya lebih murah. Pengusaha sebaiknya tak cuma memperhatikan golongan tertentu saja, dan jangan hanya memikirkan keuntungan semata. SPBU merupakan usaha yang menjual hasil yang disedot dari bumi yang kita pijak saat ini. (*)

Sumber: Tribun Jambi
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved