EDITORIAL
Menekan Si Gelap Mata
KEJADIAN pembunuhan atau dalam bahasa hukumnya perbuatan menghilangkan nyawa orang lain di Provinsi Jambi belakangan ini kerap terjadi.
KEJADIAN pembunuhan atau dalam bahasa hukumnya perbuatan menghilangkan nyawa orang lain di Provinsi Jambi belakangan ini kerap terjadi. Serentetan peristiwa pembunuhan itu di antaranya kasus mutilasi di Sungai Penuh, pembunuhan kakak kandung Bupati Tanjab Barat, dan tewasnya guru honorer di tangan mantan suami juga di Tanjab Barat.
Dan dua hari lalu, kita dikagetkan tewasnya seorang wanita muda bersimbah darah di Pasir Putih Kota Jambi. Kuat dugaan pelakunya mantan suami korban sendiri. Motifnya diduga masalah ekonomi. Seusai kejadian warga sempat melihat pelaku bergegas keluar rumah dengan sebilah pisau berlumuran darah. Tapi, tak satupun dari saksi mata yang punya nyali untuk mengamankan pelaku, karena dia menghunus pisau, dan mengancam siapa saja yang berani mendekat.
Dari sederet kasus pembunuhan tadi, boleh dikatakan sadistis. Korban menghembuskan napasnya di lokasi kejadian. Artinya, pelaku sudah benar-benar punya niat untuk menghabisi korbannya dengan tidak memberi kesempatan untuk minta pertolongan. Dibilang gelap mata, rasanya bisa jadi demikian. Seolah harga nyawa sangat murah.
Setelah mencermati kasus per kasus kita berkesimpulan, orang begitu gampang melakukan pembunuhan. Kriminolog dari Universitas Pajajaran, Yesmil Anwar pernah mengatakan kemajuan teknologi informasi, dewasa ini bisa menjadi pemicu seseorang untuk melakukan perbuatan nekat (baca; membunuh). Faktor desakan ekonomi, sosial serta kekuasaan bisa membuat orang bertindak nekat.
Persoalan penegakan hukum yang belum sesuai seperti yang diharapkan. Misalnya saja ringannya hukuman yang dijatuhkan kepada pelakunya. Nah, kondisi juga menjadi penyebab. Hal lain yang tidak kalah penting dari sekian banyak kasus pembunuhan adalah merosotnya moral dan agama.
Pesatnya kemajuan IT bisa mengubah tatanan pola hidup serta bersosialisasi ke lingkungan. Tengoklah, sejak ada telpon cerdas membuat kita terbang ke belahan dunia maya. Hubungan jauh bisa dekat, bahkan yang dekatpun bisa jadi jauh. Melek teknologi berbahaya apabila keliru menempatkannya. Suami pernah gelap mata kepada sang istri dan membunuhnya, hanya gara-gara ketika pulang kerja minta makan ternyata istri belum masak, malah asyik fesbukan.
Satu hal lagi, tayangan berita-berita kriminalitas yang vulgar serta sadistis bisa menjadi inspirasi bagi seseorang untuk melakukan tindak kekerasan/kejahatan. Mereka sudah terbiasa dicekoki kejadian-kejadian yang berdarah-darah, sehingga hal demikian dianggap biasa saja. Bukan lagi hal yang mengerikan, dan justru menjadi inspirasi.
Faktor ekonomi, dendam, sakit hati atau apalah nama motifnya, yang jelas menganiaya apalagi sampai menghilangkan nyawa orang lain adalah perbuatan melawan hukum. Pelakunya sudah jelas dihukum. Tapi, vonis hakim bukanlah satu-satunya solusi membuat efek jera, mungkin ada cara lebih jitu. Misalnya kepala daerah, kepolisian, tokoh masyarakat dan tokoh agama, duduk satu meja menyikapinya. (*)