Sabtu, 11 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Goa di Buton Selatan Ini Digunakan Jepang untuk Menyiksa Tahanan

Menurut seorang warga, La Ode Muhlar (60), mengatakan, pada zaman Jepang, warga dilarang memasang lampu minyak di malam hari.

Editor: Nani Rachmaini
KOMPAS.com/DEFRIATNO NEKE
Goa Peninggaan jepang terdapat di Desa Bola, Kecamatan Batauga, Kabupaten Buton Selatan. Goa peninggalan jepang tersebut tidak terurus dengan baik. 

TRIBUNJAMBI.COM, BUTON SELATAN – Di masa perang kemerdekaan, Jepang menjajah daerah-daerah d Indonesia, termasuk Pulau Buton di bagian selatan, Sulawesi Tenggara.

Salah satu bukti pulau itu pernah diduduki Jepang adalah adanya goa peninggalan negeri samurai itu di Desa Bola, Kecamatan Batauga, Kabupaten Buton Selatan.

Mulut goa tersebut ukurannya kecil dan di dalam goa terdapat lorong-lorong yang tidak terlalu besar. Di dalam goa juga terdapat ruang tahanan dan penyiksaan sehingga dipercaya banyak warga desa yang tewas di dalam goa.

Menurut seorang warga, La Ode Muhlar (60), mengatakan, pada zaman Jepang, warga dilarang memasang lampu minyak di malam hari.

“Kalau ada yang memasang lampu di malam hari, tentara Jepang langsung datang marah dan main pukul,” kata La Ode Muhlar, Jumat (30/9/2016).

Letak goa tersebut berada di perbukitan yang tinggi. Jaraknya sekitar 1 kilometer dari Desa Bola. Tak jauh dari goa, terdapat bangunan pondasi delapan meter persegi. Bangunan terbuat dari beton dan merupakan radar milik pemerintah Jepang saat itu.

Selain itu, terdapat juga bak penampung air dan puing sisa bangunan rumah di sekitar goa.

Hingga saat ini, masih terdapat tembok rumah Jepang yang masih berdiri. Kemudian terdapat pula tumpukan batu mirip sebuah benteng pertahanan dari depan mulut goa.

“Di dalam goa dan di rumah itu, dahulu banyak terdapat senjata, meriam dan samurai. Karena tidak diperhatikan, sehinga banyak yang mengambil dan menjualnya. Terakhir atapnya yang diambil,” ujarnya.

Kondisi goa saat ini sudah tak terawat dan tak terurus dengan baik. Semak belukar dan pepohonan tumbuh di dalam bangunan bekas rumah Jepang tersebut. Pintu masuk ke goa terdapat timbunan tanah yang belum dibersihkan.

“Dahulu kami suka melakukan gotong-royong mencabut rumput di sana. Namun sekarang sudah tidak. Goa Jepang Ini musti dijaga agar anak cucu kita mengetahuinya bila dahulu Jepang pernah menjajah di sini,” ucap La Ode Muhlar.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved