Asal Usul "Jins" dari Peru di 4.000 Tahun Lalu

Anda tahu bagaimana celana jins biru Anda memudar dari waktu ke waktu? Nah, ini seperti jins biru berusia 6.000 tahun."

Asal Usul
Shutterstock
Celana jins 

TRIBUNJAMBI.COM - Para arkeolog di masa depan akan mengklasifikasikan pakaian katun berkaki dua berwarna biru indigo sebagai salah satu hiasan manusia yang paling umum dari 20 dan abad ke-21.

Mode arkeologi yang khas, atau biasa disebut "jins" ini nantinya memiliki berbagai subkategori, seperti ‘skinny’ atau ‘bootcut’. Keberadaan geografis mereka menjadi bukti globalisasi yang cepat dari perdagangan dan budaya selama periode waktu.

Di masa sekarang, sebuah laporan yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances telah menemukan lebih dahulu asal-usul jins. Temuan ini menunjukkan bahwa manusia sudah mewarnai kain katun dengan biru indigo setidaknya 6.000 tahun yang lalu.

Penemuan ini muncul sebagai kejutan bagi para peneliti yang menganalisis delapan fragmen tekstil katun dari penggalian di Huaca Prieta, sebuah situs di Peru utara yang dihuni 14.500 hingga 4.000 tahun yang lalu. Potongan tekstil yang robek tampak berasal dari tas.

“Tekstil awalnya sangat kotor," kata arkeolog Jeffrey Splitstoser, seorang ahli dalam struktur tekstil dan salah satu penulis makalah penelitian.

"Anda bisa melihat warna biru pada beberapa sampel, tapi mereka kebanyakan berwarna abu-abu. Anda tahu bagaimana celana jins biru Anda memudar dari waktu ke waktu? Nah, ini seperti jins biru berusia 6.000 tahun."

Peneliti menggunakan cairan kromatografi berkinerja tinggi untuk mengidentifikasi keberadaan nabati pewarna indigo di lima dari delapan sampel kain. Kain diperkirakan berusia antara 6.200 hingga 1.500 tahun. Sampai penemuan ini, teknik celup tekstil indigo diketahui berasal dari Dinasti ke Lima Mesir sekitar 2400 SM.

Para peneliti percaya bahwa kain disebarluaskan secara independen di beberapa bagian dunia, termasuk Asia Selatan, Timur Tengah, dan Mesoamerika. Pantai utara Peru, diyakini menjadi daerah paling awal kain didistribusikan. Kain asli daerah, Gossypium barbadense dikenal sebagai kain Pima menjadi tulang punggung hibrida industri kain modern.

"Amerika Selatan benar-benar berkontribusi pada sejarah jins biru," ujar Splitstoser.

(K.N Rosandrani. Sumber : Kristin Romey / nationalgeographic.com)

Editor: duanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved