EDITORIAL

Waspada Bensin Oplosan

SETELAH minyak tanah oplosan yang beberapa waktu lalu beredar di sejumlah daerah di Jambi, hari ini kita dihadapkan pada fenomena beredarnya bensin op

Editor: Duanto AS

SETELAH minyak tanah oplosan yang beberapa waktu lalu beredar di sejumlah daerah di Jambi, hari ini kita dihadapkan pada fenomena beredarnya bensin oplosan.

Berbeda dengan minyak tanah yang dioplos karena harganya saat itu lebih tinggi ketimbang jenis solar, kali ini harga bensin oplosan justru lebih murah ketimbang harga pasar yang ditetapkan Pertamina.

Memang, bahan bakar minyak (BBM) sepertinya masih menjadi komoditas sexy untuk disalahgunakan oknum tak bertanggungjawab. Pasalnya, objek vital penggerak mobilitas di negeri ini ketersediaannya terus dicari dan kebutuhannya terus mengalami peningkatan.

Ketika harga minyak dunia berada di angka tinggi (di atas 10.000 dollar AS per barel) maka subsidi menjadi suatu keharusan di negeri ini. Saat itulah oknum-oknum penyelundup memanfaatkan situasi ini, dengan mengirim ke luar negeri, dan menjual kepada perusahaan konsumen minyak nonsubsidi.

Keuntungan mereka dapat dikatakan tidak sedikit, karena angka subsidi saat itu bisa mencapai harga jual yang berlaku saat itu. Kondisi ini berefek pada kelangkaan BBM di tengah-tengah masyarakat.

Sekarang, saat harga minyak dunia turun, kebijakan pemerintah menyamakan dengan harga minyak dunia menghentikan praktik penyelundupan itu. Jumlah BBM yang beredar pun dapat memenuhi kebutuhan masyarakat tanpa khawatir akan kelangkaan.

Sisi positif lainnya, kebijakan pemerintah menurunkan harga minyak tanah otomatis juga menghentikan praktik oplosan karena bahan campurannya justru lebih mahal dua kali lipat. Alhasil tak lagi kita dengar kasus meledaknya kompor akibat minyak tanah oplosan.

Namun, selalu saja ada celah yang dimanfaatkan oknum untuk mengeruk keuntungan pribadi dan mengenyampingkan keselamatan banyak orang. Salah satunya menyuling sendiri minyak mentah yang diperolehnya dengan cara ilegal.

Penelusuran Tribun, bensin oplosan tersebut diperoleh pedagang bukan dari SPBU. Ada orang yang tidak bertanggungjawab yang mengajak pedagang kerjasama. Orang tersebut menawarkan memasok bensin dengan harga yang lebih murah atau setara harga di SPBU. Warna dan baunya berbeda, kadang lebih pekat dan kadang agak kuning pucat, sementara baunya lebih menyengat.

Selain berisiko pada kerusakan kendaraan, bensin oplosan juga mengurangi pendapatan daerah, melanggar hukum dan berdampak buruk bagi kesehatan.

Manajer Humas PT Pertamina EP Muhammad Baron mengatakan, selain itu, masyarakat yang terpapar langsung minyak mentah tanpa alat pelindung diri berpotensi besar terkena beberapa bahan berbahaya minyak mentah. Seperti pernafasan, pencernaan dan kulit atau mata. Mereka yang terkena benzene misalnya, akan mengalami pusing atau sakit kepala, mual pingsan, iritasi kulit dan mata bahkan menyebabkan kanker darah.(*)

Sumber: Tribun Jambi
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved