EDITORIAL
Mengejawantahkan Pesan Kurban
HARI ini, umat muslim di seluruh dunia merayakan hari raya Idul Adha. Pada bulan Dzulhijjah ini,
HARI ini, umat muslim di seluruh dunia merayakan hari raya Idul Adha. Pada bulan Dzulhijjah ini, mereka yang mampu secara finansial dan fisik melakukan ibadah haji ke tanah suci Makkah. Adapun yang tak pergi berhaji tetap bisa mendapatkan keutaman. Diantaranya dengan melakukan puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah dan menyembelih hewan kurban.
Ibadah haji yang menguras tenaga adalah perjalanan keimanan yang diimpikan setiap muslim. Karenanya ibadah tersebut hendaknya diikuti pula dengan perubahan pada pribadi setiap orang yang telah melaksanakannya.
Demikianhalnya dengan ibadah kurban. Ibadah yang mulanya berangkat dari mimpi Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya, Ismail.
Sebagaimana khotbah para khatib. Kita sepakat bahwa ibadah kurban adalah simbol dan harus dapat dimaknai sebagai penyembelihan sifat kebinatangan dalam diri manusia. Secara fisik, memang sapi atau kambing yang disembelih untuk kemudian dagingnya diberikan kepada mereka yang berhak.
Namun, lebih dari itu, tentu Allah mensyariatkan kurban juga memiliki pesan. Maka jelaslah, bahwa dengan berkurban kita dituntut untuk ikhlas, peduli dan menjauhkan sifat-sifat hewani.
Manusia sebagai ciptaan Tuhan dilebihkan dengan memiliki akal pikiran ketimbang hewan. Sifat hewan yang beraktivitas semata didorong naluri hewaninya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya itulah yang harus kita enyahkan. Karena itu sebagai manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup kita tidak bisa asal terabas tanpa melihat halal dan haram.
Sekali lagi, selamat berhari raya Idul Adha untuk segenap kaum muslim. Semoga dengan hari raya ini, kita dapat mengejawantahkan pesan-pesan ilahiah dalam kehidupan sehari-hari. (*)