'Anda itu Profesor Harusnya Tahu'

Sepanjang proses persidangan, Profesor Eka Warna selaku ketua tim menjawab pertanyaan hakim dengan berbelit-belit

'Anda itu Profesor Harusnya Tahu'
Getty
Ilustrasi hakim 

Laporan Wartawan Tribun Jambi, Jaka HB

TRIBUNJAMBI.COM - Sidang dugaan korupsi masterplan dinas pendidikan provinsi Jambi dengan terdakwa Aswan Zahari mengundang lima saksi. Tiga diantaranya adalah dosen Unja yang menyusun buku masterplan pendidikan provinsi Jambi tersebut.

Sepanjang proses persidangan, Profesor Eka Warna selaku ketua tim menjawab pertanyaan hakim dengan berbelit-belit. Mulai dari bagaimana awalnya bisa mendapat proyek ini, mengapa bertemu Dadang, siapa Dadang dan untuk siapa proyek penyusunan buku masterplan tersebut.

“Kami penulisnya yang mulia, bukan penyusun,” katanya.

Lantas hakim ketua mempertanyakan kembali apakah mereka penulis atau penyusun. Eka Warna menjawab penulis, karena mereka hanya menuliskan data dari tim data.

Awalny Eka mengatakan dia dihubungi Dadang yang menawarinya proyek penulisan buku masterplan ini. Semuanya diserahkan pada Dadang karena Dadang yang membayar mereka. “Dadang mengaku sebagai perwakilan UNJ (Universitas Negeri Jakarta,” katanya.

Saat ditanyakan kembali oleh hakim pendamping Sriwahyuniariningsih soal bagaimana awalnya Eka Warna bisa menjadi tim penyusun buku tersebut, hakim menemukan jawaban berbeda.

“Saya awalnya dipanggil sekretaris Dewan (DPRD Provinsi) waktu itu dan ditawarkan untuk menulis ini,” katanya.

Namun saat ditanyakan kembali oleh hakim anggota, Eka Warna mengatakan semuanya diserahkan pada Dadang. “Ya semuanya diserahkan pada Dadang,” katanya.

Eka Warna sendiri kebingungan saat ditanyakan apa kapasitas Dadang sehingga Eka bisa percaya sekali dengan Dadang. Usut punya usut ternyata Dadang adalah kepponakan jauh dari Eka Warna sendiri.

Halaman
12
Penulis: Jaka Hendra Baittri
Editor: bandot
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved