EDITORIAL

Waspada Musim Ketiga

Tidak ada masyarakat yang mau mengalami fenomena "Musim Ketiga" seperti tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya.

Editor: Duanto AS

SETAHUN lalu, selama sekira tiga bulan, kabut asap membekap Provinsi Jambi. Ratusan ribu orang dipaksa menghirup asap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dalam catatan Tribun, kabut asap mulai muncul sekira bulan Agustus, meningkat di awal September, hingga puncaknya pada Oktober, lalu berangsur hilang November-Desember.

Masih lekat di ingatan, segala aktivitas masyarakat terganggu. Anak sekolah tidak bisa belajar seperti biasa, karena diliburkan selama beberapa minggu dengan alasan kesehatan. Kondisi ini jelas mengganggu kegiatan belajar mengajar dan kurikulum. Anak-anak rentan terkena infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), untuk beraktivitas di luar ruangan, wajib menggunakan masker untuk mengurangi risiko. Sementara itu, Bandara Sultan Thaha yang menjadi pintu utama jalur udara, lumpuh aktivitas. Automatis, itu berdampak ke perekonomian.

Saat itu, pemerintah kota, kabupaten, provinsi, pusat melakukan berbagai usaha penanggulanan kabut asap akibat karhutla. Ribuan anggota TNI, polisi, satgas karhutla, BNPB, BPBD dan berbagai kelompok turun untuk pemadaman.

Populer di media sosial tahun lalu, guyonan serius yang menyebut perlu ada tambahan satu musim lagi di wilayah Provinsi Jambi, Riau dan Sumatera Selatan. Selain hujan dan kemarau, ada musim ketiga yaitu musim kabut asap. Disebutkan, musim yang baru itu berlaku selama Agustus-November, bersamaan kemarau.

Menarik ingatan dari fenomena setahun lalu, September 2016 telah tiba. Meski ada beberapa kebakaran lahan dalam skala kecil, namun belum ada tanda-tanda bakal muncul kabut asap. Meski terbantu hujan yang masih turun, dalam kondisi ini, pemerintah dan berbagai pihak telah waspada melakukan tindakan pencegahan.

Seperti informasi dari Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jambi, ada kebakaran lahan kosong sekira 1 hektare di Kabupaten Bungo, Rabu (31/8). Api yang diketahui sekira pukul 14.00, langsung bisa dipadamkan sekira pukul 15.00 oleh Tim Karhutla Bungo, Koramil 06, Polsek Kota Bungo, BPBD/Damkar dan masyarakat.

Melihat komposisi tim dalam pemadaman ini, artinya berbagai elemen telah memiliki kesadaran untuk menjaga wilayah supaya kebakaran tidak berdampak besar dan merugikan. Tidak ada masyarakat yang mau mengalami fenomena "Musim Ketiga" seperti tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya.

Informasi dari Pusdalops BPBD Provinsi Jambi, telah dibentuk posko penanggulangan karhutla di beberapa daerah. Selain itu, pemerintah juga mengimbau perusahaan perkebunan dan kehutanan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan BPBD Provinsi Jambi juga telah menyiapkan helikopter untuk pantauan udara dan water bombing bila ada karhutla. Pantauan kemunculan titik panas juga dilakukan Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Akhirnya, membaca dampak peristiwa karhula tahun lalu, di bulan-bulan yang rawan ini, kewaspadaan akan kemunculan titik panas dan titik api tidak boleh menurun. (*)

Sumber: Tribun Jambi
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved