Breaking News:

Citizen Journalism

Kabut Asap, Siapa yang Paling Dirugikan?

TAHUN lalu, kebakaran hutan yang terjadi di Jambi berlangsung selama kurang lebih tiga bulan. Kebakaran ini

Editor: Fifi Suryani
Kabut Asap, Siapa yang Paling Dirugikan?
TRIBUN JAMBI/FIFIE SURYANI

Oleh: Ulfa Mahfudz (Koalisi Perempuan Indonesia, Jambi)

TAHUN lalu, kebakaran hutan yang terjadi di Jambi berlangsung selama kurang lebih tiga bulan.  Kebakaran ini mengakibatkan kabut asap terburuk yang pernah dialami di wilayah Jambi.

Sebagai penduduk Jambi, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri kehancuran yang diakibatkan kebakaran dan kabut asap yang melanda masyarakat. Hal ini bukan semata-mata tentang dampak negatif pada sektor ekonomi, yang mencakup sekolah, usaha masyarakat, dan pariwisata yang dampaknya sudah sangat buruk. Tetapi hal ini juga menyangkut masyarakat Jambi yang kesehatannya terganggu akibat bencana ini. Meskipun api telah dipadamkan, dampaknya tetap terasa dan masyarakat masih tetap menderita.

Ada sejumlah masalah kesehatan dan penyakit pernapasan yang terkait dengan kabut asap. Menurut data dari Dinas Kesehatan Provinsi Jambi, lebih dari 80 ribu orang telah mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selama bulan Oktober tahun lalu.

Meskipun kabut asap berbahaya bagi semua orang, dampaknya lebih berbahaya bagi kelompok tertentu yang masuk kategori rentan. Tjandra Yoga Aditama, Kepala Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, menyatakan bahwa orang tua, anak-anak, dan orang-orang yang memiliki penyakit pernapasan dan jantung lebih rentan mengalami masalah kesehatan dari kabut asap. Kabut asap dapat menyebabkan reaksi alergi, peradangan, infeksi saluran pernapasan akut, serta pneumonia. Anak-anak yang sistem kekebalan tubuhnya belum berkembang sepenuhnya, termasuk salah satu kelompok yang paling rentan terhadap bahaya kabut asap.

Bagi kaum perempuan, zat berbahaya dari kabut asap dapat mengakibatkan mutasi DNA dan kematian sel yang membawa pada penyakit kanker seperti kanker ovarium, kanker serviks, dan kanker payudara. Bagi wanita hamil, kontak langsung dengan polutan udara dapat mengakibatkan kelainan pada janin, kelahiran prematur, dan bahkan keguguran kandungan.

Wanita hamil yang berkontak langsung dengan asap juga dapat mempengaruhi IQ anaknya. Menurut penelitian, anak yang terpapar polusi udara pada tingkat tinggi memiliki IQ lebih rendah dibandingkan anak dari perempuan yang tidak terpapar, atau lebih sedikit terpapar polutan udara.

Karena besarnya dampak dari kebakaran dan kabut asap untuk kesehatan manusia, masih banyak yang harus dilakukan untuk mengantisipasi dan mencegah hal ini terjadi lagi. Di Jambi, pemerintah daerah melalui Komisi Lingkungan Hidup, DPRD Jambi, mendesak agar Peraturan Daerah PenanggulanganKabut Asap dapat segera disusun dan diterapkan.

Peraturan Daerah ini sangat penting untuk mencegah dan menanggulangi kebakaran dan kabut asap di masa mendatang.
Tetapi hal ini tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah. Pencegahan kebakaran hutan dan kabut asap tahunan memerlukan pendekatan banyak lapisan dan banyak pihak. Salah satu contohnya adalah program Desa Siaga Api–inisiatif kerjasama yang melibatkan sektor swasta di Jambi, seperti PT Bahana KaryaSemesta (BKS), masyarakat lokal dan pemerintah daerah.

Tujuan dari kerjasama ini adalah untuk bersama-sama mencegah terjadinya kebakaran hutan dan membantu desa-desa agar tetap terhindar dari api, dengan menyediakan teknologi dan peralatan. Selain itu, sebagai bagian dari program ini masyarakat diajarkan tentang bahaya dari kebakaran hutan dan diberikan pengetahuan dan kemampuan untuk melakukan praktik pembukaan lahan tanpa membakarnya.

Jika kita tidak segera mengambil langkah yang komprehensif dan terkoordinasi dalam menangani dampak dari kabut asap, orang-orang yang paling kita sayangi akan membayar harga yang mahal dalam hal kesehatan. Kita tidak bisa lagi menerima perilaku yang tidak bertanggung jawab dari pembakaran lahan dan hutan untuk keuntungan jangka pendek dengan mengabaikan dampak negatif terhadap lingkungan.  Kita harus mengingat bahwa bumi bukanlah milik kita, melainkan pinjaman dari anak cucu kita.  Peduli pada bumi adalah tanggung jawab kita jika ingin mendapatkan dunia dan kehidupan yang lebih baik.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved