Perluas Pasar, Jeruk Siam Banjar akan Disertifikasi

Jeruk siam banjar (Citrus reticulata) akan segera disertifikasi untuk memperluas pangsa pasarnya

TRIBUNJAMBI.COM, MARABAHAN – Jeruk siam banjar (Citrus reticulata) akan segera disertifikasi untuk memperluas pangsa pasarnya. Buah jeruk yang telah disertifikasi bisa masuk ke ritel-ritel modern sehingga harga jualnya lebih tinggi. Dengan begitu, para petani juga bisa menghindari permainan harga yang dilakukan para tengkulak.

Rencana Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Provinsi Kalimantan Selatan untuk menyertifikasi jeruk siam banjar dikemukakan Kepala Seksi Pengembangan Tanaman Buah Dinas Pertanian TPH Kalsel Rempil Sabtanano saat meninjau kegiatan panen jeruk di Desa Karang Buah, Kecamatan Belawang, Kabupaten Barito Kuala, Kamis (25/8/2016).

Rempil mengatakan, sertifikasi terhadap produk pertanian sudah menjadi tuntutan pasar global dewasa ini. Karena itu, negara-negara di lingkup ASEAN sudah mulai menghasilkan produk-produk pertanian bersertifikat.

”Produk-produk segar hasil pertanian harus disertifikasi supaya harganya bisa bersaing,” ujarnya.

Untuk proses sertifikasi jeruk siam banjar, lanjut dia, kebun-kebun jeruk milik petani harus diregistrasi terlebih dahulu. Setelah itu, baru Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Daerah (OKKPD) Kalsel melakukan sertifikasi.

”Dengan sertifikasi, berarti ada jaminan produk tersebut aman dikonsumsi. Ketika jeruk siam banjar dijual di supermarket dan mal, otomatis naik kelas,” katanya.

Menurut Rempil, sertifikasi jeruk siam banjar selambat-lambatnya dimulai pada 2017. Khusus di Barito Kuala, minimal lima bidang kebun yang akan diregistrasi dan disertifikasi. Luas satu bidang kebun minimal 1 hektar.

Mulyono (59), petani jeruk di Desa Karang Buah, menyatakan, dirinya gembira menyambut rencana sertifikasi buah jeruk siam banjar.

”Kalau sudah disertifikasi nanti, tentunya harga jeruk akan lebih tinggi karena kualitas benar-benar diperhatikan. Saya pun jadi bersemangat untuk terus membudidayakan tanaman jeruk siam banjar,” katanya.

Menurut Mulyono, harga jeruk siam banjar sangat ditentukan oleh tengkulak yang datang langsung membeli buah ke kebun.

Saat ini, harga jeruk Rp 4.500 per kilogram (kg). Namun, beberapa minggu lalu, harganya sempat hanya Rp 3.300 per kg.

”Kalau sudah lewat puncak musim panen, harganya bisa mencapai Rp 6.000 per kg,” ujar petani yang memiliki kebun seluas 2 hektar ini.

Kepala Dinas Pertanian TPH Barito Kuala Zulkipli Yadi Noor menyampaikan, harga jeruk siam banjar memang fluktuatif tergantung hasil panen dan permintaan pasar. Meski begitu, harga jual jeruk selalu masih di atas harga pokok produksinya, Rp 1.500 per kg. Jadi, petani tetap bisa menikmati keuntungan dari budidaya jeruk.

Luas areal tanaman jeruk siam banjar di Barito Kuala mencapai 6.602 hektar dan tersebar di tujuh kecamatan, yaitu Mandastana, Belawang, Rantau Badauh, Berambai, Marabahan, Cerbon, dan Wanaraya.

”Lahan pertanian yang potensial untuk pengembangan tanaman jeruk siam banjar sekitar 30.000 hektar,” kata Zulkipli.

Editor: nani
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved