EDITORIAL

Pemburu yang Terus Diburu

HARIMAU Sumatera (Panthera Tigris Sumaterae) memiliki nilai ekonomis tiada duanya dibanding satwa dilindungi yang lainnya.

Editor: Duanto AS

HARIMAU Sumatera (Panthera Tigris Sumaterae) memiliki nilai ekonomis tiada duanya dibanding satwa dilindungi yang lainnya. Semua yang ada di badan si raja hutan ini sangat laku dijual. Sebut saja, daging, kulit, tulang-belulang, misai, kuku hingga isi perutnya pun diburu. Khasiatnyapun banyak seperti untuk offsetan (pajangan), penelitian serta obat-obatan.

Pendek kata, "datuk" demikian orang Jambi menyebut satwa dilindungi ini, tidak ada yang tidak laku dijual. Makanya satwa "kharismatik" ini menjadi maskotnya Provinsi Jambi. Di lain pihak keberadaan sang pemburu ini di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah ini terus menyusut.

Patut diakui, hingga kini belum ada data akurat populasi Harimau di alam liar sana. Ini sedikit mengganggu pihak tertentu merilis data tersebut untuk kepentingan penelitian ataupun informasi kepada publik. Tiga tahun lalu Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi waktu itu, Tri Siswo Raharjo menyebut, populasi Harimau Sumatera di Jambi sekitar 80 ekor tersebar di empat lokasi hutan lindung, maupun buffer zone (daerah penyangga).

Data BKSDA ini dirilis oleh Tri Siswo pada Maret 2013 silam. Tapi baru-baru ini Kepala BKSDA Jambi, Syahimin merilis juga populasi "datuk" di Jambi yang terpantau BKSDA, tidak sampai 150 ekor. Jumlah ini naik hampir dua kali lipat. Kalau begitu ada penambahan jumlah Harimau bukan justru berkurang. Nah, di sinilah timbul pertanyaan apa mungkin.

Kata Syahimin, jumlah satwa dilindungi ini menurun terimbas tutupan hutan berkurang dan maraknya perburuan. Jumlah itu masih belum pasti, bisa lebih, bisa kurang. Ini disampaikan Minggu 14 Agustus 2016.

Ada kesenjangan data sangat jauh. Memang untuk memastikan berapa jumlah pastinya sangatlah sulit. Karena untuk mendapatkan data betul-betul valid bukanlah pekerjaan gampang. Selama ini saja, untuk mengetahui populasinya menggunakan teknologi Camera Trap yakni kamera tersembunyi yang secara otomatis mengambil gambar dari obyek bergerak di depannya, dan termasuk dari jejak serta kotoran.

Konsistensi data populasi sangat urgen, karena ini menyangkut pemenuhan layanan data untuk banyak pihak seperti, ilmuwan yang melakukan penelitian, dan pihak-pihak berkepentingan lainnya termasuk media yang memerlukan data untuk disebar kepada publik. Artinya, data yang diserap harus akurat agar tidak ngawur. Karena ini menyangkut akurasi data jumlah satwa yang dilindungan, termasuk dunia sekalipun intens mengawasi progres populasi Harimau Sumaera.

Harimau Sumatera adalah satu-satunya Harimau yang masih tersisa di muka bumi ini, setelah punahnya Harimau Jawa dan Harimau Bali, serta Harimau Siberia yang hanya tinggal nama saja.Update data yang konsisten sangat penting untuk memudahkan pihak berkepentingan dalam bekerja melindungi satwa langka ini. Semoga saja, ke depan data yang dipublis bisa dipertanggungjawabkan. (*)

Sumber: Tribun Jambi
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved