EDITORIAL
Rasa Nasionalisme
Pertama pemberhentian dengan hormat Menteri ESDM yang baru 20 hari menjabat, Archandra Tahar. Kedua, Gloria Natapradja Hamel.
DUA hari jelang 71 tahun kemerdekaan Indonesia, dua peristiwa mengejutkan terjadi menyangkut dua anak bangsa yang telah terlanjur mendapat kepercayaan dari pemerintah.
Pertama pemberhentian dengan hormat Menteri ESDM yang baru 20 hari menjabat, Archandra Tahar. Kedua, Gloria Natapradja Hamel, utusan Provinsi Jawa Barat sebagai Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka), namun kemudian digagalkan pihak Kementerian Pemuda dan Olahraga.
Keduanya dicopot/digagalkan setelah mengetahui memiliki paspor luar negeri, sebagai penanda kewarganegaraan luar. Opini pun bertebar menyesalkan pihak pemerintah yang dianggap kecolongan karena tidak mengetahui kewarganegaraan pejabat yang sudah dilantik. Kontradiktif dengan penyesalan pertama, ada yang kecewa pemerintah telah mencopot aset bangsa yang 'mumpuni', ahli, cakap dan bernyali di bidangnya.
Archandra pun tak urung jadi sasaran bully, dianggap tidak punya rasa nasionalisme, karena telah mengucapkan sumpah setia kepada negara lain. Profilnya pun bertebaran mencapnya sebagai pengkhianat, bahkan ada berita yang menyebutkan ia sebagai sosok tidak jujur.
Semua tudingan memojokkan itu ujarnya bergulir begitu saja, tanpa ada klarifikasi kepadanya. Ia juga menegaskan saat ini tidak lagi mengantongi paspor Amerika Serikat. Pertanyaannya, apa kewarganegaraan Archandra sekarang ini?
Klarifikasi tentang Archandra juga dikemukan Sekretaris Perusahaan PT Timah Persero Tbk Agung Nugroho. Archandra disebut masuk dalam enam orang yang direkomendasikan pemerintah untuk dibiayai pendidikannya di luar negeri.
Lazimnya, setelah pendidikan rampung, para penerima beasiswa kembali ke perusahaan penyandang dana. Namun, Arcandra tidak jadi pulang ke tanah air karena resesi melanda perusahaan-perusahaan tambang di Indonesia, termasuk PT Timah yang berlanjut hingga tahun 2000.
Karena banyak perusahaan sempoyongan, efisiensi pun dilakukan, antara lain dengan memangkas jumlah karyawan. Arcandra dan putra-putri terbaik Indonesia peraih beasiswa disarankan untuk tidak pulang. Inilah yang akhirnya membuat ia dan rekannya berkarier di luar negeri.
Kesediaan Archandra kembali ke Indonesia menjabat sebagai menteri tentu tidak luput dari rasa nasionalisme kepada negeri asalnya. Banyak harapan disandarkan ke pundaknya baik dari pemerintah maupun masyarakat Indonesia pada umumnya untuk me-menej sektor Energi dan Sumber Daya Mineral di negeri ini. Namun, faktor identitas dan aturan kewarganegaan saat ini memupus harapan itu.
Hal yang sama juga dialami Gloria yang diputuskan tidak tampil di Istana Merdeka hari ini sebagai anggota Paskibraka. Gloria terpukul, ia diputuskan batal tampil karena tidak berkewarganegaraan Indonesia. Pelajar berusia 16 tahun ini memegang paspor Perancis, dan orangtuanya tidak mengurus pengalihan statusnya sebagai WNI. Gloria dengan rasa nasionalismenya, yang tumbuh dan besar di Indonesia pun menyatakan tekadnya untuk menjadi WNI.
Pemerintah yang menjalankan tugasnya menegakkan aturan pun harus dihormati keputusannya menegakkan amanah menjaga nasionalisme dengan memberhentikan Archandra dan membatalkan Gloria. Namun, perlu dicatat bukan berarti mereka tidak punya rasa nasionalisme. Mungkin, nasionalisme di hati mereka jauh lebih dalam dibanding kita yang menudingnya.
Seperti halnya rasa nasionalisme warga keturunan yang menetap puluhan tahun dan sudah beranak-pinak. Tak seharusnya lagi kita mempolitisir keberadaan mereka, dan dianggap berbeda.
Beberapa diantara mereka telah mengharumkan nama negeri ini, seperti pada helat akbar olahraga dunia yang saat ini tengah berlangsung di Rio de Janeiro Brasil. Pada Ulang Tahun ke- 71 Republik Indonesia hari ini, mari kita kurangi prasangka dan minimalisir perbedaan untuk Indonesia yang lebih baik. (*)