Kapal Tenggelam, ABK Ini Bertahan Hidup Tiga Hari Dengan Minum Air Laut

Kapal Motor (KM) Kartika II pembawa elpiji tenggelam akibat dihantam gelombang setinggi 1,5 meter.

Kapal Tenggelam, ABK Ini Bertahan Hidup Tiga Hari Dengan Minum Air Laut
Bangka Pos / Riski Yuliandri
(Bawah): H Ase, korban kapal tenggelam (Atas): Perawat RSUD Bangka Tengah memasang selang oksigen ke hidung Arman 

TRIBUNJAMBI.COM - Kapal Motor (KM) Kartika II pembawa elpiji tenggelam akibat dihantam gelombang setinggi 1,5 meter.

H Ase, anak buah kapal (ABK) mengatakan, kejadian bermula ketika sekitar pukul 22.00 WIB, ia bersama empat rekan lainnya yaitu Acok, Sudirman, Arman, dan Adi berangkat dari Pelabuhan Pangkalbalam, Pangkalpinang menuju Belitung untuk mengantarkan gas elpiji.

Setelah berlayar sekita 14 jam, tiba-tiba cuaca cerah menjadi gelap. Hujan deras dan angin menjadi kencang sehingga mengakibatkan gelombang tinggi.

"Kita memang sengaja jalan santai, biasanya 15 jam sudah sampai ke sana (Belitung). Tapi tiba-tiba cucanya buruk, golombang tinggi sekitar satu setengah meter, airnya juga sampai masuk ke dalam kapal," ungkap H Ase kepada bangkapos.com (Tribunnews.com network), Rabu (17/8/2016).

Akibat air dari gelombang tersebut, mesin robin yang biasa digunakan untuk membuang air di dalam kabin kapalnya rusak.
"Setelah airnya semakin banyak, Acok (kapten kapal) menyuruh kami pakai pelampung, tiba-tiba kapalnya seperti ketarik ke bawah," tambahnya.

Sebelum diselamatkan, H Ase terpaksa minum air laut selama tiga hari tiga malam untuk bertahan hidup setelah kapal yang dinaikinya tenggelam.

"Selama di laut saya cuma minum air laut, kadang juga masuk melalui hidung saat gelombang datang," ungkap Ase.
Hanya menggunakan jaket pengaman, Ase berusaha berenang untuk mencari pertolongan nelayan yang melintas.

"Awalnya kami bergandengan berlima, tapi saya berinisiatif untuk mencari pertolongan. Setelah berenang 100 meter, Arman (rekannya) ikut nyusul, katanya sih mau bantu karena kasian ngeliat saya sendirian," tutur Ase.

Ase mengatakan air laut yang masuk ke mulutnya sudah terasa tawar, sedangkan tenggorokannya terasa sakit dan kering.
Selama itu juga ia harus menahan nyeri karena terkena ubur-ubur yang banyak di perairan tersebut.

"Saat kena ubur-ubur itu sangat perih, panas dan gatal. Air laut saja terasa tawar," ungkap pria asal Jambi tersebut.(*)

Editor: rahimin
Sumber: Bangka Pos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved