Smart Women
GALERI FOTO: Anggi Terpaksa Pakai Baju Tiga Lapis
LONDON, siapa tak mengenalnya? kota metropolitan terbesar di Britania Raya, pusat dari kebudayaan dunia,
Penulis: Teguh Suprayitno | Editor: Fifi Suryani
TRIBUNJAMBI.COM - LONDON, siapa tak mengenalnya? kota metropolitan terbesar di Britania Raya, pusat dari kebudayaan dunia, yang unggul di bidang seni, bisnis, pendidikan, pariwisata hingga transportasi.
Sempat seminggu menjejakkan kaki di kota terbesar di Uni Eropa adalah suatu kebanggaan. Itulah yang dirasakan Anggi.
Perempuan muda yang jadi delegasi universitas Jambi di London International Model United Nation pada 2016.

Pertama datang ke London, Anggi disambut dengan suhu minus 4 derajat, angka yang tak pernah ada di Indonesia. "Dingin banget, sampai kalau kita nafas itu kelihatan kayak ada asapnya," katanya sembari terkekeh.
Tak biasa dengan suhu dingin di London, Anggi harus membalut tubuhnya dengan tiga lapis baju. "Pakai baju tebalnya dua, terus pakai coat, rangkap tiga, terus shawl, tambah pakai jilbab," tutur Anggi.
Dan satu lagi, kebiasaan di Indonesia mandi 2-3 kali sehari tak bisa dilakukannya di sana.

"Orang di sana itu ada yang mandinya pagi, pagi saja, kalau malam, malam saja, jadi pagi mereka nggak mandi. Soalnya emang dingin banget," kata perempuan penyuka novel berjudul "It end with us" karangan Colleen Hoover ini.
Tidak hanya dipaksa beradaptasi dengan suhu yang dingin, Anggi juga harus terbiasa dengan biaya transportasi yang super mahal. Dia sempat kaget saat pesan taxi di Bandara menuju wisma.
"Waktu bayar taxi dari Bandara mahal banget, emang sih bayarnya cuma beberapa lembar uang poundsterling, tapi kalau dirupiahkan itu Rp 2 juta," katanya yang selalu diikuti senyuman dan terkadang disusul tawa.

Hal yang menurutnya bisa jadi contoh untuk masyarakat di Indonesia, terutama Jambi adalah warga di London yang sangat menghargai pejalan kaki. "Kalau ada orang nyeberang, mobil berhenti. Belum nyebrang aja mobil udah berhenti, pejalan kaki sangat dihargai di sana," katanya.
Lalu lintas di London juga sangat tertib, jauh tertata dan maju dibanding Jambi. "Kalau tersesat di London itu lebih aman ketimbang tersesat di Jakarta," ungkap Anggi.
Di setiap jalan di London, diberikan peta petunjuk yang menunjukkan dimana posisi kita saat itu. Sehingga orang yang tersesat akan dengan mudah menemukan jalan pulang. Anggi cerita dia pernah tersesat, dengan melihat peta dan tanya petugas, akhirnya dia bisa kembali pulang ke wisma.

"Di sana turis banyak, dan itu sangat membantu sekali."
Dia juga menemukan orang-orang yang ramah, serta ringan tangan. Jauh berbeda dengan kabar yang beredar bahwa warga London, bersikap rasis terhadap perempuan berhijab macam dirinya.
"Waktu saya mau naik kereta, keberatan angkat koper, itu langsung ada yang bantuin, orangnya ramah," kata Anggi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/12082016_anggi5_20160812_203954.jpg)