Breaking News:

Warga Buluran Dipukuli Oknum Polisi Saat Tawuran Pelajar di SMAN 10 Kemarin, Ini Kronologinya

Riski Adi Saputra (20) warga RT 9, Kelurahan Buluran, Kecamatan Telanaipura harus merasa kesakitan setelah menjadi korban pengeroyokan oknum polisi

Penulis: Rian Aidilfi Afriandi
Editor: Nani Rachmaini
TRIBUNJAMBI/RIAN AIDILFI AFRIANDI
Belasan pelajar sekolah menengah atas Kota Jambi digiring aparat Kepolisian Sektor (Polsek) Telanaipura karena menyerang ke SMAN 10 Jambi hingga mengakibatkan tawuran di TKP, Sabtu (6/8/2016). 

Laporan Wartawan Tribun Jambi, Rian Aidilfi Afriandi.

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Riski Adi Saputra (20) warga RT 9, Kelurahan Buluran, Kecamatan Telanaipura harus merasa kesakitan setelah menjadi korban pengeroyokan oknum anggota kepolisian dari Sektor Telanaipura saat kejadian tawuran antar pelajar di SMAN 10 Kota Jambi, Sabtu (6/8) kemarin.

Kepada Tribun, korban mengaku hendak menjemput adiknya seorang siswi yang bersekolah di SMAN 10. Saat itu, dia mendapat kabar bahwa siswa di sekolah tersebut tidak boleh pulang jika bukan pihak keluarga yang menjemput. Pasalnya, sekolah tersebut tengah diserang pelajar dari sekolah lain.

"Saya pergilah jemput adek saya ke sana sekitar jam setengah 3an kalau dak salah," ujar Riski, Minggu (7/8).

Sesampainya di lokasi, ucap korban, para pelajar dan anggota kepolisian sudah ramai di lokasi. Para pelajar yang berada di lokasi sempat melihatnya dengan tatapan sinis.

Adiknya pun keluar dari gerbang sekolah. Dirinya pun langsung bergegas pergi meninggalkan lokasi.

"Motor saya ni pakek knalpot besar, jadi saat itu saya ni ngegas di depan siswa-siswa tu," ucapnya.

Belum jauh dari lokasi, kata korban, adiknya meminta dirinya untuk putar balik, karena ada sesuatu yang terlupa.

"Pas putar balik itulah tiba-tiba saya ditodong polisi pakai senjata dan disuruh turun. Di situ saya langsung digebukin dan diterajang polisi-polisi itu," ungkapnya.

BACA: Kapolsek Telanaipura: Bukan Anggota Saya yang Melakukan Pengeroyokan Itu

Dia bilang, dirinya sempat melarikan diri karena merasa ketakutan dipukuli oleh anggota polisi. Namun anggota mengejarnya. Tak sampai disitu, oknum anggota tersebut malah menuduh dia sebagai mata-mata dari sekolah lain.

"Saya jelas membela diri. Saya bilang kalau saya ini cuma menjemput adik saya dan alumni dari SMA 10. Polisi yang mukul saya malah bilang saya mata-mata. Ada juga yang bilang maling," lanjutnya.

Korban bersama para pelajar yang terlibat tawuran tersebut pun digiring ke Polsek Telanaipura. Tangan korban dibawa dengan tangan terborgol.

"Adik saya jadinya pulang bawa motor sendiri. Sampai di Polsek pun saya masih dipukuli," katanya.

Akibatnya, korban mendapat luka di bagian mata sebelah kanan, kening, punggung dan sekitar leher dan langsung pergi ke RSUD Raden Mattaher untuk melakukan pemeriksaan. (*)

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved