Demam Pokemon Go

Demam Pokemon Go Gairahkan Bisnis Developer Game

Beberapa minggu belakangan ini, permainan berbasis teknologi augmented reality (AR) atau realitas

Demam Pokemon Go Gairahkan Bisnis Developer Game
AFP PHOTO / ANP / REMKO DE WAAL
Gamer bermain dengan aplikasi Pokemon Go di ponsel mereka, di Grote Markt di Haarlem, Rabu (13/7/2016). 

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Beberapa minggu belakangan ini, permainan berbasis teknologi augmented reality (AR) atau realitas tertambah semakin populer. Hal ini turut menggairahkan bisnis teknologi AR yang sebenarnya sudah mulai dipasarkan sejak 2010 silam.

Salah satu developer yang ikut kecipratan demam Pokemon Go adalah Anantarupa Studio. "Biasanya seminggu ada satu sampai dua panggilan telepon yang tanya tentang produk. Sejak ada Pokemon Go, seminggu bisa lebih dari lima telepon masuk tanya tentang produk AR," ujar Ivan Chen, pendiri Anantarupa Studio, Senin (25/7).

Ivan bilang, popularitas teknologi AR dimanfaatkan sejumlah perusahaan untuk program promosi dan marketing produknya. Anantarupa Studio beberapa bulan lalu sempat menggarap satu aplikasi permainan berbasis AR untuk kliennya yang bergerak di industri makanan. "Sebenarnya, menggunakan teknologi AR biayanya relatif lebih murah dengan hasil yang bagus daripada harus pasang iklan di televisi," kata Ivan.

Dia menambahkan, iklan di televisi hanya bisa meningkatkan brand awareness, namun belum tentu meningkatkan penjualan. Ivan mengklaim, dengan menggunakan aplikasi buatannya, penjualan produk sang klien bertumbuh empat kali lipat. Biaya pembuatan aplikasi berbasis AR bervariasi, tergantung fitur dan animasi yang disematkan di dalamnya. Semakin rumit semakin mahal. Umumnya aplikasi paling sederhana dibanderol mulai dari Rp 150 jutaan.

Ivan menyebut, Anantarupa Studio saban tahun bisa menggarap 10 hingga 12 proyek berbasis teknologi AR. Tahun ini, dia bilang permintaan pembuatan teknologi AR bertumbuh 10 kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Ivan berharap dengan adanya demam Pokemon Go ini semakin menggairahkan industri pengembang aplikasi lokal.

Editor: fifi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved