EDITORIAL

Kenangan Indah

Dalam sepekan ini telinga kita didengungkan perdebatan membolehkan dan melarang mengantar anak ke sekolah, terutama bagi buah hati yang pertama kali m

Editor: Duanto AS

APA yang istimewa mengantar anak ke sekolah? Dalam sepekan ini telinga kita didengungkan perdebatan membolehkan dan melarang mengantar anak ke sekolah, terutama bagi buah hati yang pertama kali masuk sekolah, masuk SD atau SMP.

Apa yang salah? Apa istimewanya sehingga kepala daerah harus angkat bicara? Beberapa hari ini, para PNS atau pegawai swasta diberi peringatan oleh atasannya, agar tidak mengantarkan anak ke sekolah, atau boleh saja antar anak tapi tidak boleh telat masuk kantor.

Mengapa diributkan sekarang? Apakah pada tahun-tahun sebelumnya peristiwa ini tidak pernah terjadi? Siapa sosok yang melontarkan wacara melarang antar anak ke sekolah?

Tidak penting mengusut siapa orangnya. Mengantarkan anak di hari pertama ke sekolah, adalah peristiwa setahun sekali, bahkan bagi si anak, bisa jadi itu akan menjadi kenangan terindah seumur hidupnya. Begitu juga bagi keluarga muda, mengantarkan anak ke sekolah di hari pertama, akan menjadi peristiwa manis tak terlupakan.

Selain menciptakan kenangan, mengantarkan anak di hari pertama sekolah, bagi sebagian orang tua menjadi keharusan yang tidak bisa diwakilkan. Lihat saja pasangan keluarga muda di sekitar komplek tempat tinggal kita. Kalau saja mengantarkan anak harus dilarang, siapa yang akan mengantarkan anak mereka ke sekolah? Sementara di rumah tidak ada orang dewasa lainnya, selain mereka suami istri, yang keduanya pegawai.

Anggap saja karena mengantarkan anak ke sekolah di hari pertama, sehingga menyebabkan para orang tua ini terlambat sampai di tempat kerja. Apakah sebagian besar pegawai kantor besok mengantarkan anaknya ke sekolah? Tentu saja sudah banyak anak SMP atau SMA yang tidak mau lagi diantar oleh orang tuanya ke sekolah. Artinya, besok pagi hanya di Tk atau SD saja yang dipenuhi oleh para orang tua yang mengantarkan anaknya ke sekolah.

Di sisi lain, seeloknya sebagai pimpinan di satu kantor, sudah selayaknya memberikan izin bagi pegawainya untuk mengantarkan anak ke sekolah di hari pertama. Hal ini sangat memberikan respon positif bagi karyawan, dan pimpinan memberikan ruang terciptanya hubungan emosional yang baik antara anak dan orang tua.

Seperti dikutip Menteri Pendidikan, Anies Baswedan yang mengkritik pejabat yang melarang pegawainya mengantarkan anak ke sekolah. "Beruntunglah pimpinan yang secara sadar mengizinkan anak buahnya. Karena pimpinannya sedang memberitahu ke anak buahnya saya peduli atas keluarga Anda. Pemimpin yang seperti itu yang dengan hati memimpin. Yang seperti inilah yang kita butuhkan," ujarnya.

Mengantarkan anak ke sekolah, adalah bukti bahwa orang tua mempercayakan anaknya kepada pihak sekolah untuk dididik menjadi anak yang berilmu dan berakhlak. Selain itu, hal ini menjadi satu pintu komunikasi yang baik antara pihak sekolah dan orang tua. Bukankah mendidik anak tidak semata-mata tanggungjawab pihak sekolah? Jika orang tua murid dan pihak sekolah memiliki komunikasi yang baik, maka diyakini tidak akan pernah terjadi kasus-kasus kriminal di lingkungan sekolah. (*)

Sumber: Tribun Jambi
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved