EDITORIAL

Bahaya Mengintai di TPA

Editorial Tribun Jambi.

Editor: Duanto AS

TEMPAT pembuangan akhir (TPA) sampah Talang Gulo, Kecamatan Kotabaru terlalu sempit untuk menampung seribu meter kubik lebih sampah se kota Jambi setiap hari. Kondisi TPA yang memiliki luas sekitar 10 hektare itu memang gendut. Beberapa kali pemerintah kota Jambi mewacanakan mau membangun TPA baru, yang berlokasi tak jauh dari TPA sekarang, tapi hingga sekarang belum terealisasi.

Masalah sampah adalah masalah klasik, yang memang tidak bisa dipisahkan dari manusia. Selagi manusia masih bercokol di muka bumi ini, selama itu pula sampah menjadi permasalahan serius yang harus dicarikan solusi melenyapkannya. Terkait dengan itu, barangkali selama ini kita belum serius membahas sampah dari limbah bahan berbahaya beracun (B3).

Karena selama ini sepertinya limbah B3 ini belum mendapat perhatian serius dari banyak pihak terkait. Atau memang limbah B3 ini diabaikan saja. Padahal ini menjadi momok mengerikan, dan limbah B3 ada di tengah-tengah kita. Contoh sederhana saja seperti oli bekas, baterai bekas, kaleng bekas parfum dan banyak lagi. Belum lagi limbah B3 dari sampah rumah sakit.

Muncul pertanyaan? Selama ini dibuang ke mana limbah B3 tersebut. Kalau Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Raden Mattaher menggunakan incenerator memusnahkannya. Asal tahu saja incinerator adalah metode penghancuran limbah organik dengan jalan pembakaran dalam suatu sistem terkontrol dan terisolir dari lingkungan sekitar.

Lantas abu hasil pembakaran limbah B3 tadi dikemenakan? Nah inilah yang masih tanda tanya besar. Tapi pihak RSUD Raden Mattaher pernah menyebutkan bahwa, abu hasil pembakaran limbah B3 di incenerator itu disimpan. Tidak disebutkan disimpan di mana, dan sampai berapa lama menyimpannya.

Tumpukan sampah yang menggunung di TPA Talang Gulo, sepintas memang terlihat tidak ada persoalan. Namun cobalah ditelisik dan analisa lebih dalam lagi, di antara ribuan meter kubik sampah yang menggunung tadi, di sana ada banyak sampah dari limbah B3. Sebagian dari limbah B3 tadi secara tidak sengaja sudah disortir oleh pemulung, seperti kaleng bekas racun serangga, plastik-plastik atau bekas tempat deterjen.

Kenapa ini bisa terjadi? Karena memang sistem pembuangan akhir sampah di Talang Gulo selama ini memang belum punya teknologi yang mampu mengurai jenis-jenis sampah berbahaya dan tidak berbahaya. Kita hanya dipertontonkan "lautan" sampah yang menggunung bercampur aduk dari segala jenis sampah. Padahal di balik sampah-sampah itu ada bahaya mengintai yang selama ini tanpa kita sadari.

Apakah bahaya ini bisa diatasi? Tentu saja bisa. Berkat kemajuan teknologi, apa yang tidak bisa.
Tim peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berhasil mengembangkan incenerator generasi terbaru dilengkapi unit plasma. Teknologi ini digunakan untuk menyelesaikan permasalahan sampah melalui pembakaran yang tidak menghasilkan asap yang mencemari lingkungan. Kandungan racun pada asap yang dihasilkan dari incenerator dapat dinetralisasi dengan plasma, sehingga asap dihasilkan bersih.

Mudah-mudahan sajalah, kota Jambi segera memiliki tempat pengelolaan sampah terpadu yang dilengkapi dengan teknologi incenerator generasi baru ciptakan LIPI tadi. Apalagi kalau proyek dari pemerintah Jerman yang sudah berkunjung ke Jambi April lalu, terealisasi, diharapkan kota Jambi tidak lagi dipusingkan dengan persoalan klasik yang namanya sampah. Disebut-sebut Jerman akan gelontorkan dana 100 juta dolar AS untuk pembangunan 4 TPA terpadu (Malang, Sidoarjo, Jombang dan kota Jambi). Di Sumatera hanya kota Jambi yang beruntung. Semoga saja megaproyek ini terealisasi. (*)

Sumber: Tribun Jambi
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved