EDITORIAL

Memaksakan Kehendak

Editorial Tribun Jambi.

Editor: Duanto AS

DUNIA pendidikan kita sudah mengalami banyak perubahan (baca; bukan kemajuan), mulai aspek rekrutmen, pelaksanaan ujian akhir sekolah (UAS) hingga ke ujian nasional (UN). Sebetulnya tujuan dari semuanya itu ingin mendapatkan hasil yang baik, demi suksesnya program pendidikan sehingga sekolah pun dapat nama dinilai berhasil menjalankan proses belajar mengajar, meski di sana-sini masih banyak bolong-bolong.

Seperti kata teman saya di jendela facebook nya, sekarang siswa (peserta UN), seolah-olah sedang menghadapi perjuangan hidup atau mati. Dari hal yang kecil, seperti orangtua melepas kepergian si anak dengan peluk cium, doa dan diantar hingga ke sekolah. Tak jarang pula ada "main mata" antara orangtua pihak sekolah. Jauh berbeda dengan di zaman Ebtanas dulu (kini UN). Siswa cukup minta izin dari rumah, dan tentu saja diiringi doa agar lulus.

Apa yang digambarkan teman tadi, adalah bagian dari potret betapa berlebih-lebihnya orangtua, si anak (peserta ujian) dan bahkan tak sampai disitu saja, guru pun terkadang sangat atraktif membantu anak didik mendapatkan nilai maksimal. Ya apapun caranya, karena memang dari sananya (katanya perintah dari atas) agar hasil UN harus bagus, dan siswa mesti gol 100 persen.

Nah, inilah yang membuat pihak sekolah pusing sepuluh keliling, dari berbagai penjuru ada pesan sponsor nilai ujian tidak boleh jeblok itu sudah harga mati. Bahkan beberapa waktu lalu beredar kabar di satu di antara sekolah di kota Jambi yang memperjuangkan anak didiknya dengan membagi-bagikan kunci jawaban. Ada juga yang membiarkan siswanya melihat kepekan (secarik kertas jawaban). Wah, wah, sudah sebegitu parahkah pendidikan kita?.

Timbul pertanyaan mau dibawa ke mana ini? Bagaimana tidak, mestinya guru berjuang mati- matian dengan cara mengojlok anak didiknya jauh hari sebelum ujian. Kok malah menempuh metode menghalalkan segala cara agar siswanya lulus semua demi nama baik sekolah.
Artinya ada yang tidak beres dalam sistem pendidikan. Kemajuan teknologi barangkali punya peran di sini. Seperti apa perannya? Tergantung seperti apa siswa memainkan perannya. Suka tidak suka, kini gadget masuk ke sekolah bahkan ke ruang kelas. Gadget kita ibaratkan sebilah pisau, tergantung siapa yang memegangnya.

Bila pisau tadi dipegang dokter ahli bedah, maka digunakan menolong nyawa si pasien. Sebaliknya bila di tangan penjahat, bisa digunakan untuk membunuh. Nah, berada di posisi manakah peran tadi dimainkan. Kehadiran gadget (smartphone) memang tidak terelakan sebagai konsekwensi kemajuan teknologi. Banyak kasus-kasus video porno dari siswa sekolah adalah bukti dari sederet masalah degradasi (kemerosotan) mental anak didik.

Kesimpulannya, sesuatu yang dipaksakan tidak akan memberikan hasil yang baik. Apapunlah itu kegiatannya. Apalagi ingin mendapatkan hasil UN yang oke punya, dengan jalan menghalalkan segala cara, ya bisa dipastikan akan membunuh mental anak didik kita. Masa depan anak didik kita akan suram, karena mentalnya sudah dicekoki dengan sesuatu yang instan. Semoga saja UN SMP kali ini tetap masak di batang, bukan dikarbit. (*)

Sumber: Tribun Jambi
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved