Pelajaran Investasi, Hati-hati di Rumah Susun

Para investor belum mendapatkan Akta Jual Beli (AJB) meskipun mereka sudah membayar lunas.

Pelajaran Investasi, Hati-hati di Rumah Susun
Warta Kota
Ilustrasi rumah susun. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Ingin untung tapi buntung. Itulah yang dialami oleh para investor di bisnis rumah susun. Pasalnya, belakangan banyak terjadi penipuan di bisnis ini. Teranyar adalah investasi bodong Kondotel Panghegar. Para investor belum mendapatkan Akta Jual Beli (AJB) meskipun mereka sudah membayar lunas.

Kasus lainnya adalah perkara investasi bodong Kondotel Pullman Bali. Dalam kasus ini, para investor merasa dirugikan lantaran pihak pengembang PT Samudera Asia Nasional tidak membayarkan kewajibannya sejak tahun 2014 lalu.

Lainnya, perkara rumah susun non hunian Thamrin City yang dikembangkan oleh PT Agung Podomoro Land. Para pembeli belum juga mendapatkan surat kepemilikan hingga saat ini, padahal pembayaran sudah lunas.

Krismanto Prawirosumarto, Ketua Kesatuan Aksi Pemilik dan Penghuni Rumah Susun Indonesia (KAPRI) menegaskan, sampai saat ini, ada sekitar 77 aduan rumah susun bermasalah di seluruh Indonesia.

"Sampai saat ini, permasalahan mereka belum selesai karena tidak ada perlindungan terhadap konsumen," katanya pada KONTAN, Senin (9/5).

Nurwandono, salah satu pembeli Kondotel Panghegar, menyepakati hal itu. Dia mengatakan, pembeli rumah susun sangat sulit mendapatkan keadilan. " Saya kapok berinvestasi di bidang ini," katanya.

Krismanto menyebutkan, perkara-perkara yang dialami oleh para pembeli rumah susun sudah sering terjadi dan disengaja oleh para pengembang untuk mendapatkan keuntungan. Contohnya, para pengembang membentuk Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Satuan Rumah Susun (P3SRS).

Tujuan pembentukan ini untuk menguasai bangunan. Padahal dalam Undang-Undang no 20 tahun 2011 disebutkan yang berhak membuat P3SRS adalah pembeli bangunan.

Meski banyaknya kasus yang terjadi, investasi dibidang properti ini masih menjadi incaran banyak orang. Alasannya, gimik imbal hasil yang besar dan nilainya yang terus naik tiap tahun.

Untuk meminimalisasi kejadian yang serupa, Eddy Leks pendiri Leks&Co; Lawyers mengatakan bila calon pembeli harus memahami Undang-Undang dan hukum dalam investasi rumah susun. Tidak hanya itu, para pembeli juga harus mengetahui identitas pengembang serta mengawal pembangunan.

Editor: duanto
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved