Properti

Cermati 4 Hal Ini agar tak Tertipu Iklan Properti

Membeli properti harus berhati-hati. Harganya yang mahal tentu membuat Anda akan sangat merugi

Editor: Fifi Suryani
Jennifer Post Design
Sebuah dinding tembus pandang memungkinkan kamar terbatasi tanpa membuat ruangan menjadi sempit. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Membeli properti harus berhati-hati. Harganya yang mahal tentu membuat Anda akan sangat merugi jika salah membeli.

Mahalnya harga properti kerap membuat Anda mudah tergiur dengan tawaran promosi dari pihak developer. Namun Anda tetap harus cermat jika mendapati iklan properti yang begitu menarik.

Baik itu iklan properti di website properti, media cetak, televisi, brosur hingga banner yang ada di jalan, semua iklan properti tersebut terkadang menggunakan gaya bahasa pemasaran yang kreatif, tetapi cenderung bermakna ambigu.

Oleh sebab itu, penting sekali untuk mencermati iklan properti yang Anda temukan. Jangan sampai Anda salah memahaminya dan akhirnya merasa kecewa setelah membelinya. Nah, berikut ini ada empat hal yang perlu Anda cermati agar tidak tertipu iklan properti:

1. Uang Muka

Promo uang muka yang ringan seringkali menjadi siasat pengembang untuk memasarkan produk propertinya. Misalnya, promo uang muka hanya 10 persen dengan keringanan cicilan uang muka atau promo beli rumah tanpa uang muka.

Meski iklannya tertulis demikian, tetapi promo tersebut biasanya memiliki berbagai persyaratan tertentu. Anda harus menanyakan kejelasan akan hal ini ke bagian marketing properti.

2. Harga dan Cicilan

Bahasa iklan properti kerap menuliskan harga jual dengan kata berakhiran –an untuk memberikan kisaran angka yang tidak spesifik. Contohnya, rumah dijual Rp 400 jutaan atau cicilan ringan Rp 50 ribuan per hari. Padahal dalam spesifikasinya, ternyata jutaan yang dimaksud adalah Rp 490 juta, namun yang mungkin Anda mengiranya adalah Rp 400 juta.

Sedangkan cicilannya ternyata jika dicermati menjadi Rp 50 ribuan x 30 hari = sekitar Rp 1,5 juta per bulan.

3. Lokasi

Lokasi sering menjadi hal utama yang dipertimbangkan saat mencari properti. Maka tak heran jika developer suka menonjolkan nilai plus propertinya yang diklaim berlokasi strategis. Misalnya, dekat dengan gerbang tol, bandara, akses jalan yang lebar, dan lain-lain.

Namun, Anda jangan langsung percaya. Anda perlu mengecek langsung ke lokasi properti yang dimaksud apakah benar-benar letaknya strategis seperti yang dikatakan pihak developer.

4. NUP

NUP atau Nomor Urut Pembelian umumnya bisa diperoleh oleh pembeli potensial beberapa hari atau minggu sebelum launching properti. NUP juga jadi strategi developer untuk menawarkan produknya dengan harga lebih murah namun dengan unit terbatas, sehingga banyak yang mengincarnya.

Seperti developer mungkin menawarkan promo beli rumah Rp 200 juta untuk 10 pembeli pertama. Namun sebenarnya, harga selanjutnya akan ditentukan berdasarkan kuantitas NUP yang diberikan, di mana yang lebih cepat membelinya akan mendapatkan harga yang lebih murah. Jadi, Anda harus memahami skema NUP yang ditawarkan oleh developer.

Sumber: Kontan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved