Breaking News:

Waduh, Gunung Everest Kini Ditutupi 10 Ton Kotoran Manusia

Lebih dari 4.000 orang telah mendaki Gunung Everest sejak Sir Edmund Hillary pertama kali berdiri di titik tertinggi permukaan bumi

Azim Afif via AP
Situasi di base camp pendakian Gunung Everest setelah terkena longsoran akibat getaran gempa 7,9 Skala Richter (SR) yang berpusat di Nepal, Sabtu (25/4/2015). 

EVEREST, gunung tertinggi di dunia itu kini ditutupi di lebih dari 10 ton kotoran manusia, dan penuh dengan perlengkapan rusak serta tabung oksigen bekas.

Lebih dari 4.000 orang telah mendaki Gunung Everest sejak Sir Edmund Hillary pertama kali berdiri di titik tertinggi permukaan bumi tersebut tahun 1953 silam. Sebelum itu, puncak mematikan setinggi 8.850 meter tersebut secara harfiah tak tersentuh oleh manusia, karena tidak ada yang pernah berdiri di puncaknya atau buang kotoran di lerengnya.

Sekarang, gunung tertinggi di dunia itu ditutupi di lebih dari 10 ton kotoran manusia, dan penuh dengan perlengkapan rusak serta tabung oksigen. Ya, para penjelajah pencari kemuliaan telah merusak pegunungan paling ikonik di planet kita.

Menurut Peter Holley di The Washington Post, lebih dari 11.793 kg kotoran manusia diangkut dari gunung setiap musimnya oleh orang-orang Sherpa. Kemudian mereka membuang sampah tersebut di lubang dekat Gorakshep, sebuah desa kecil yang berada pada ketinggian sekitar 5.164 meter dari permukaan laut.

Ketika kondisi di gunung sedang bersahabat, ratusan pendaki berangkat dari base camp dengan harapan dapat menjejakkan kaki di puncak. Meskipun tidak semua pendaki berhasil sampai puncak, mereka semua meninggalkan sejumlah besar kotoran dan sisa-sisa perbekalan.

Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Pendaki biasanya menggali lubang di salju untuk digunakan sebagai toilet darurat. Setelah urusan buang hajat selesai, mereka menutup lubang dan kemudian pergi. Tetapi kotoran tidak ke mana-mana, toilet darurat yang dulunya hanya lubang di tanah telah menumpuk selama bertahun-tahun. Daerah yang paling parah adalah tepat di luar kamp pendaki yang biasa digunakan untuk menyesuaikan diri dengan ketinggian.

Seiring masalah sampah yang semakin memburuk, sumber air setempat secara perlahan berubah menjadi lumpur beracun. Lubang di Gorakshep pada dasarnya adalah sebuah tong raksasa penuh resiko penyakit yang mengancam penduduk setempat. Keadaan menjadi lebih buruk karena kotoran tidak hancur akibat iklim dingin di kawasan itu. Kotoran membeku dan tetap ada lebih lama dibanding dengan di daerah-daerah yang iklimnya lebih hangat.

Kabar baiknya, masih ada orang-orang yang berusaha menghadirkan solusi, karena sebenarnya tidak ada orang yang ingin melihat salah satu pemandangan alam yang paling spektakuler di dunia menjadi gunung tinja raksasa. Salah satu ide terkemuka berasal dari insinyur dari Mount Everest Biogas Project, yang berencana mengubah kotoran-kotoran di lubang di Gorak Shep menjadi sumber energi.

Seperti laporan Renee Morad untuk Discovery News, digester biogas ini berbeda dari yang biasa karena memiliki kemampuan untuk berfungsi dalam kondisi lingkungan dingin.

“Digester akan dilengkapi dengan isolasi R-50 dan lingkaran resistor berdaya 200 watt, mirip seperti yang biasa ditemukan pada pemanas air untuk menghantarkan panas.”

Insinyur juga mengatakan bahwa tambahan daya 100 watt akan diperlukan untuk menjaga isi dalam digester yang dikubur di dalam tanah, tetap berada pada suhu 86 derajat Fahrenheit atau lebih tinggi.

Untuk memberikan daya pada perangkat, tim berencana menerapkan serangkaian panel surya. Jika ini menjadi kenyataan, lubang kotoran benar-benar bisa memberikan manfaat pada penduduk setempat.

Namun, gagasan ini tidak serta merta memecahkan masalah sampah yang semakin buruk setiap tahunnya. Bahkan, meskipun pemerintah Nepal mewajibkan semua pendaki membawa turun 8 kg sampah turun atau bakal kehilangan uang deposit mereka, permasalahan sampah di Everest tak kunjung membaik.

(Lutfi Fauziah/Science Alert, Discovery News)

Editor: Edmundus Duanto AS
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved