Sehari Bisa Layani 25 Konsumen

Mansah (36), warga Lorong Siswa RT 6, Kelurahan Suka Karya, Kecamatan Kotabaru kini kerap mengenakan “seragam”

Penulis: Rian Aidilfi Afriandi | Editor: Fifi Suryani
TRIBUN JAMBI/RIAN AIDILFI AFRIANDI

TRIBUNJAMBI.COM - Mansah (36), warga Lorong Siswa RT 6, Kelurahan Suka Karya, Kecamatan Kotabaru kini kerap mengenakan “seragam” barunya. Jaket warna kuning hitam. Di belakangnya mencolok tulisan dengan huruf capital Grabme.

Helmnya yang berwarna kuning juga demikian.

Kini, Mansah beralih menjadi driver Grabme yang baru satu bulanan ini hadir di Jambi. Alasan tidak perlu mencari penumpang lagi yang membuat Mansah tertarik gabung dengan ojek online tersebut.

"Selain itu kita tidak perlu menunggu pelanggan lagi. Tinggal tunggu orderan masuk, kita jemput dan tinggal bayar. Sistem ini malah mempermudah semuanya meski harus pakai HP Android," tuturnya.

Kepada Tribun ia juga menuturkan mengenai penghasilannya. Pengakuannya dalam sehari, penghasilan yang didapatnya bisa mencapai Rp 50 ribu bahkan lebih. Nominal rupiah yang jarang ia peroleh semasa menjadi ojek pangkalan.

"Sehari yang ngorder itu bisa sampai 25 orang," ujar ayah dua orang anak tersebut kemarin.

Masih seturut Mansah, dalam sehari pelanggan mengorder tiga layanan, shopping (belanja), courir (antar jemput barang dan transport (antar penumpang).

"Misalnya pelanggan memesan bakso satu porsi dari toko bakso di Sipin. Maka harganya sudah langsung tertera di aplikasi itu. Kita beli terlebih dahulu pakai uang kita, nanti sesampainya di tujuan langsung dibayar pelanggan sesuai harga di aplikasi," cerita Mansah.

Menurutnya, konsumen yang sering menggunakan jasanya didominasi oleh jasa belanja dari pada jasa kurir ataupun ojek.

Driver Grabme lainnya, Turiman (34), juga mantan ojek pangkalan menceritakan, selama kurang lebih satu bulan bergabung, ada peningkatan penghasilan yang ia terima.

"Kemarin ada orang dari Jakarta yang baru saja tinggal di Jambi. Dia belum tahu menahu seluk beluk Jambi. Lalu dia download aplikasi ojek online kami. Dia order dan kami langsung datang. Dia merasa sangat terbantu sekali. Karena dia di Jakarta juga pakai layanan ojek online," ungkapnya.

Ia juga meyakinkan bahwa data konsumen yang sudah mengorder langsung hilang dengan sendirinya demi privasi pelanggan. Bahkan, demi keamanan konsumen, karyawan Grabme juga terdata dan identitasnya tertera di aplikasi.

Ketika bertemu dengan pengojek pangkalan, dikatakan Turiman, tidak ada respon yang berlebihan. Malah kebanyakan bertanya caranya agar bisa mendaftar menjadi driver Grabme.

"Kebanyakan nanya seperti itu. Beberapa ada yang ditawarkan, malah bilang ribet harus pakai android. Memang sih, ada yang bisa memakai android ada yang tidak," katanya.

Kesulitan yang dirasakan driver Grabme termasuk Turiman adalah kesulitan mencari jalan atau lokasi pengorder. "Ketika kesulitan mencari jalan, tapi kami langsung menghubungi pelanggan untuk minta kejelasan alamat," ujarnya.

"Sejauh ini belum ada keluhan. Malah ucapan terima kasih. Selain itu mereka yang order barang kadang menghubungi kami lagi untuk tambah request belanjaan," imbuhnya.

Istri Turiman mendukung alih haluan suaminya itu. "Malah istri saya sering nanya kapan ada ojek online di Jambi," tuturnya seraya berharap Grabme bisa berkembang.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved