EDITORIAL

Gerhana Total

Editorial Tribun Jambi

KONON pada 1983 masyarakat Jambi menyaksikan Gerhana Matahari Total (GMT), meskipun Jambi bukan menjadi daerah perlintasan GMT. Hari ini setelah 33 tahun fenomena alam itu kembali terjadi. Selain masyarakat di Provinsi Jambi, ada beberapa provinsi lainnya di Indonesia yang bisa menyaksikan berlangsungnya detik detik gerhana matahari total itu.

Dalam gerhana matahari total kali ini hanya ada 12 provinsi yang dapat melihat secara penuh, yakni Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, dan Maluku Utara.

Fenomena gerhana matahari terjadi ketika posisi bulan terletak di antara bumi dan matahari, sehingga menutup sebagian atau seluruh cahaya matahari. Sedangkan gerhana matahari total terjadi apabila saat puncak gerhana, piringan matahari ditutup sepenuhnya oleh piringan bulan.

Informasi yang diperoleh, Indonesia adalah tuan rumah GMT 9 Maret 2016. Jalur lintasan Gerhana Matahari Total 2016 ini amat sangat panjang. Jalur totalitas gerhana 2016 membentang dari Samudra India hingga utara Kepulauan Hawaii, Amerika Serikat. Jalur gerhana ini selebar 155-160 kilometer dan terentang sejauh 1.200-1.300 kilometer.

Untuk daerah-daerah yang dilintasi jalur total dari provinsi-provinsi di atas adalah, Palembang (dengan durasi gerhana 1 menit 52 detik), Belitung (2 menit 10 detik), Balikpapan (1 menit 9 detik), Luwuk (2 menit 50 detik), Sampit (2 menit 8 detik), Palu (2 menit 4 detik), Ternate (2 menit 39 detik), Bangka (2 menit 8 detik), Palangkaraya (2 menit 29 detik), Poso (2 menit 40 detik), serta Halmahera (1 menit 36 detik).

Sementara itu, daerah lain yang tidak mendapat Gerhana Matahari Total, tetap bisa menyaksikan Gerhana Matahari Sebagian. Gerhana sebagian ini terlihat di Padang (95,43 persen), Bandung (88,76 persen), Denpasar (76,53 persen), Kupang (65,49 persen), Surabaya (83,08 persen), Banjarmasin (98 persen), Manado (96,66 persen), Jakarta (88,76 persen), Pontianak (92,96 persen), Makassar (88,54 persen), serta Ambon (86,90 persen), termasuk daerah sekitarnya yang berdekatan.

Namun perlu diingat, fenomena GMT adalah sunatullah, ketentuan dari Allah, sesuai dengan hadits Nabi Muhammad, "Sesungguhnya matahari juga rembulan merupakan dua tanda dari kekuasaan Allah SWT, maka jika kalian melihat adanya gerhana, maka berdo'alah kepada-Nya, selanjutnya sholatlah sampai hilang dari arah kalian gelap, dan juga bersedekahlah, " (HR. Bukhari dan Muslim)

Jangan kita hanya terfokus untuk melihat fenomena ini, mari luangkanlah waktu untuk menunaikan salat sunat gerhana, karena tidak ada satu ketentuan pun yang terjadi tanpa kuasa Tuhan sang pencipta alam. Semoga fenomena alam ini semakin mengingatkan kita pada kekuasaan Allah yang segala maha. (*)

Editor: duanto
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved