Kapal Sultan Thaha Syaifuddin-376, Nama Pahlawan Jambi Diabadikan TNI AL
Penelusuran Tribun, berikut ini ulasan seputar kapal perang yang dimuat di situs koarmabar.tnial.mil.id. Silakan membacanya.
TAHUKAH Anda, nama pahlawan Jambi diabadikan menjadi Kapal Perang RI (KRI) ? Kapal Sultan Thaha Syaifuddin-376 berjasa menangkap enam kapal ikan asing asal Vietnam, dalam waktu sepekan ini.
Penelusuran Tribun, berikut ini ulasan seputar kapal perang yang dimuat di situs koarmabar.tnial.mil.id. Silakan membacanya.
Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) saat ini diperkuat sejumlah kapal perang jenis perusak kawal tipe parchim lebih dari 7 KRI, termasuk di antaranya KRI Sultan Thaha Syaifuddin-376. Kapal ini sehari-hari di bawah pembinaan satuan Kapal Eskorta Komando Armada RI Kawasan Barat (Satkor Koarmabar).
Kapal perang dengan pangkalan di dermaga TNI AL Pondok Dayung Jakarta tersebut, merupakan satu dari di antara kapal perang yang memperkuat Koarmabar dalam rangka menegakkan kedaulatan dan hukum di perairan kawasan barat, mulai dari Sabang sampai Selat Malaka, Selat Singapura, perairan Natuna, Pantai Barat Sumatra, Selat Sunda sampai dengan perairan Laut Jawa dengan batas wilayah peraian di perbatasan Jawa Barat dengan Jawa tengah.
Kapal Perang KRI Sultan Thaha Syaifuddin-376 dibuat di galangan kapal Veb Penne Werft Gmb Wolgast Jerman Timur pada 1982. Kapal ini bernama asli Bad Doberan-222. Setelah dibeli Pemerintah Indonesia, pada 1993 kapal perang diresmikan dengan nama KRI Sultan Thaha Syaifuddin-376, selanjutnya dioperasikan Komando Armada Kawasan Barat.
Nama Kapal perang yang diambilkan dari nama seorang raja yang pernah dinobatkan menjadi raja Jambi pada 1885–1905 tersebut, telah terlibat berbagai penugasan operasi dan latihan yang digelar TNI AL dan TNI serta pernah dilibatkan sebagai duta bangsa ke beberapa negara tetangga dalam rangka latihan bersama dan patroli terkoordinasi keamanan laut.
Latihan bersama dengan negara tetangga yang pernah diikuti di antaranya pada 1995-an, KRI ini pernah dilibatkan latihan bersama TNI AL dengan kapal perang Malaysia bernama Latma Malindo. Kapal perang itu bersama unsur-unsur kapal perang TNI AL lain tergabung dalam Satuan Tugas melaksanakan muhibah dan merapat di dermaga Angkatan Laut Penang Malaysia.
Demikian pula terlibat kegiatan operasi bersama negara tetangga, di antaranya operasi keamanan laut setelah 2006 sampai saat ini. Meliputi Operasi di perbatasan Indonesia-Malaysia dengan nama Operasi Malsindo 2006, Operasi keamanan laut di perairan Sabang dan sekitarnya bersama kapal perang India di wilayah perbatasan masing-masing negara, dengan nama Operasi Indindo pada akhir 2012. Operasi MSSP di perairan Selat Malaka bersama dengan kapal perang Tentara Laut Diraja Malaysia (TLDM). Sedangkan dalam kegiatan latihan bersama pernah terlibat dalam latihan bersama dengan nama Sea Eagle dengan kapal perang Republik Singapura Navy ( RSN ).
Untuk kegiatan operasi kemanan laut yang digelar Komando Armada RI Kawasan Barat bersama unsur-unsur KRI sejenis maupun jenis lainnya, KRI Sultan Thaha Syaifuddin-376 pernah dilibatkan Operasi Pengamanan Alur laut kepulauan Indonesia (ALKI) 1, Operasi Wilayah Barat, Operasi Trisila, Operasi Gurita dan berbagai operasi lainnya yang digelar Komando pelaksana Operasi Gugus Tempur Laut Komando Armada RI Kawasan Barat dan Gugus Keamanan laut Komando Armada RI Kawasan Barat.
Operasi tersebut saat ini dikenal dengan nama Operasi Arung Pari/13, Operasi Taring Pari/13 dan Operasi Alur Pari/13 . Sedangkan Operasi Rakata Jaya dalam rangka pengamanan di Selat Sunda dan peraian Teluk Jakarta dengan komando pengendali langsung oleh Koarmabar
Spesifikasi dan keunggulan
Kapal perang dengan spesifikasi panjang 75,04 meter dan lebar 8.95 meter mampu berlayar dengan kecepatan masimum 24 knot dan kecepatan ekonomis sampai dengan 10,4 knot. Kapal tersebut dilengkapi dengan pusat informasi temput, peralatan navigasi dan radar yang modern guna mendukung kegiatan operasi dan latihan di laut.
Kapal perang dengan kemampuan operasi di laut 4-5 hari tersebut dipersenjatai meriam kaliber 57 mm, 30 mm dan 20 mm . Selain itu RBU 6000 strela AL -1, bom laut dan torpedo. Kapal perang jenis ini memliki kemampuan untuk peperangan anti udara, permukaan laut dan bawah permukaan dalam peperangan laut menghadapi lawan kapal perang musuh.
Dalam beberapa kegiatan latihan tingkat tiga maupun latihan terpadu dengan melaksnakan manuver lapangan yang digelar Komando Armada RI kawasan Barat , berapa jenis senjata di KRI Sultan Thaha Syaifuddin-376 telah di uji cobakan dalam rangka meningkatkan kemampuan secara profesionalisme para pengawak KRI dalam melaksnakan perintah komando secara taktis dalam pelaksanakan penembakan beberapa senjata yang dimiliki.
Untuk mempertahankan kesiapan dan lamanya daur operasi kapal perang, secara periodik KRI Sultan Thaha Syaifuddin-376, telah dilaksanakan perbaikan secara menyeluruh dan docking pada kurun waktu yang telah terjadwal di galangan kapal industri dalam negeri. Hal tersebut untuk mempertahankan kecepatan maksimum berlayar dan kemampuan secara teknis senjata kapal dalam rangka mendukung tugas pokok Koarmabar dalam penegakkan kedaulatan dan hukum di peraian Yuridiksi kawasan Barat Indonesia.
Dalam pengabdian dan memperkuat TNI AL, KRI Sultan Thaha Syaifuddin-376 telah mengantar beberapa komandan KRI mencapai puncak kariernya menjadi Perwira Tinggi TNI AL di jabatan strategis di TNI dan TNI AL.(*)