Menyelamatkan Sejarah

Editorial Tribun Jambi

UPAYA pelestarian terhadap peninggalan sejarah di Jambi nyaris selalu kalah cepat dengan pertumbuhan permukiman. Hadirnya permukiman jelas memiliki keterkaitan dengan hak kepemilikan.

Di sinilah yang menjadi persoalan. Dua benturan pun terjadi. Pemerintah yang tak punya banyak anggaran untuk membebaskan tanah yang di atasnya ada peninggalan bersejarah, bersinggungan dengan ego masyarakat yang mematok harga tinggi atas tanah tersebut.
Patut khalayak ketahui, data Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi, sekitar 80 persen bangunan cagar budaya di Provinsi Jambi merupakan milik pribadi.

Upaya pelestarian terhadap bangunan peninggalan sejarah itu seperti diakui pihak BPCB terbentur dengan minimnya dana pembebasan lahan.

Di Kabupaten Muaro Jambi saja, kabupaten yang memiliki situs bersejarah terluas di Asia Tenggara, terdapat sekitar 80 lokasi yang lahannya belum dibebaskan. Di 60 titik itu, terdapat gundukan tanah atau menapo yang di bawahnya bangunan candi tertimbun.
Mengambil contoh, situs Solok Sipin. Sebuah situs cagar budaya peninggalan Budha yang tepat berada di tengah Kota Jambi. Jangan lupa bahwa begawan arkeologi Indonesia, Profesor Soekmono menyebut situs Solok Sipin adalah situs yang luas. Tapi, lihat saja kondisinya kini.

Apa yang diuar Soekmono sekira dua dasawarsa lalu berbanding terbalik dengan kondisi kekinian Solok Sipin. Luasan situs (yang terselamatkan) kalah luas dengan dimensi situs ini sesungguhnya.

Tak dapat dimungkiri. Masih ada episode-episode sejarah Jambi yang masih gelap. Utamanya di masa-masa pra sejarah. Padahal temuan-temuan arkeologis sesekali masih ditemukan di tanah jambe.

Sejarah adalah rekonstruksi atas masa lalu. Karenanya jelas, bahwa perekonstruksinya adalah orang-orang berkompeten di masa kini.
Membangun kesadaran masyarakat atas pentingnya sejarah adalah keniscayaan. Sebagaimana undang-undang mengamanatkan, bahwa tanggung jawab pelestarian bangunan cagar budaya tidak hanya melekat kepada pemerintah dan masyarakat secara umum. Pemilik bangunan juga memiliki kewajiban untuk melestarikan dan merawat. (*)

Editor: duanto
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved